Pelaku UMKM Tumbuh Lambat

Hanya 2 Persen Per Tahun

244
PACU PERTUMBUHAN: Setiap tahun, ada kurang lebih penambahan sebanyak 2 persen yang merupakan wirausaha baru di Kota Semarang. Pameran, seperti yang dilaksanakan di UMKM Expo di Java Mal Semarang saat ini, diharapkan mampu mendongkrak pemasaran. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PACU PERTUMBUHAN: Setiap tahun, ada kurang lebih penambahan sebanyak 2 persen yang merupakan wirausaha baru di Kota Semarang. Pameran, seperti yang dilaksanakan di UMKM Expo di Java Mal Semarang saat ini, diharapkan mampu mendongkrak pemasaran. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PACU PERTUMBUHAN: Setiap tahun, ada kurang lebih penambahan sebanyak 2 persen yang merupakan wirausaha baru di Kota Semarang. Pameran, seperti yang dilaksanakan di UMKM Expo di Java Mal Semarang saat ini, diharapkan mampu mendongkrak pemasaran. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PACU PERTUMBUHAN: Setiap tahun, ada kurang lebih penambahan sebanyak 2 persen yang merupakan wirausaha baru di Kota Semarang. Pameran, seperti yang dilaksanakan di UMKM Expo di Java Mal Semarang saat ini, diharapkan mampu mendongkrak pemasaran. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang mencatat, setidaknya terjadi pertumbuhan jumlah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Namun pergerakan pertumbuhan cukup lambat, hanya sebesar 2 persen per tahun.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang Lita Satyawati mengatakan, saat ini terdapat 11.545 UMKM yang terdaftar di kota Semarang. Pihaknya akan terus berupaya agar jumlah tersebut terus bertambah atau naik tingkat dari mikro ke kecil, begitu juga dari kecil ke menengah. Untuk memacu pertumbuhan, sejumlah upaya dilakukan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang. Misalnya, menggelar sejumlah pelatihan guna menarik minat masyarakat untuk menggeluti UMKM sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan produk di sektor ini.

Dijelaskan Lita, penambahan wirausaha baru sebesar 2 persen per tahun tersebut bisa benar-benar baru memulai, atau mereka yang sudah dibina kemudian berkembang dan naik tingkat. Dari jumlah tersebut, terbanyak atau menduduki posisi hingga 50 persen adalah UMKM di sektor produk olahan makanan. Menurutnya, produk-produk olahan makanan khas Semarang seperti Lunpia dan Bandeng presto cukup laris. “Saat ini kita juga tengah kembangkan produk olahan berbahan dasar selain terigu,” uujarnya di sela UMKM Expo di Java Mal, kemarin.