922 Balita Derita Gizi Buruk

Ortu Lebih Pentingkan Konsumsi Rokok dan Pulsa

601

SEMARANG – Jumlah balita penderita gizi buruk di Jawa Tengah masih tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Tengah, tercatat 922 balita menderita gizi buruk. Data tersebut dipaparkan Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Retno Mratihatani di sela-sela Jambore Petugas Gizi di Knights Stadium, Semarang, Kamis (17/3).

Meski masih tergolong banyak, menurut Retno jumlah tersebut sudah turun dari tahun-tahun sebelumnya. Daerah dengan gizi buruk tertinggi terjadi di Brebes dengan 82 balita yang menderita. Sedangkan terendah ada di Surakarta sebagai satu-satunya daerah yang bersih dari gizi buruk baru disusul Salatiga dengan 3 penderita.

”Daerah yang jumlah penderitanya tinggi biasanya juga memiliki jumlah penduduk yang tinggi jadi secara proporsi juga belum bisa dikatakan tinggi, Brebes sendiri memiliki wilayah yang luas dan penduduk yang banyak itu juga menjadi salah satu faktor,” katanya.

Penyebab lainnya karena faktor ekonomi, tingkat pendidikan, hingga prioritas keluarga. Retno mencontohkan, masih banyak orang tua terutama pasangan muda yang lebih mengutamakan konsumsi rokok, hingga sambungan internet atau pulsa daripada untuk konsumsi buah hatinya.

”Seorang balita bisa dikatakan waspada gizi buruk saat selama dua bulan berturut-turut berat badannya tidak bertambah, banyak orang tua bahkan tidak memperhatikan berat badan balitanya,” katanya. Sementara itu, pihak yang dilibatkan untuk menanggulangi problematika ini sulit tercapai, karena hanya mengandalkan tenaga gizi.

Saat ini setiap Puskesmas setidaknya sudah memiliki satu ahli gizi. Namun menurutnya jika harus meng-cover satu kecamatan tetap saja akan kesulitan. ”Bayangkan saja jumlah ibu mengandung dalam setiap kecamatan ada seratus orang misalnya jika harus ditangani satu orang ahli gizi pasti akan kesulitan,” katanya.