PEKALONGAN – Eksistensi batik di Jawa Tengah harus terus dipertahankan. Sejumlah calon pengusaha wirausaha baru pun diminta terus mengembangkan produk batik, seperti batik Pekalongan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Prijo Anggoro yang menjadi salah satu narasumber dalam pelatihan kepada calon wirausaha baru di Hotel Dafam Pekalongan, kemarin memaparkan tentang permasalahan yang sering dihadapi dunia industri khususnya di Kota Pekalongan. “Bagaimana caranya usaha di Pekalongan, terutama batik tetap laku, namun lingkungan tetap terjaga,” kata Prijo Anggoro.

Menurutnya, harus ada perubahan persepsi masyarakat khususnya Kota Pekalongan terkait limbah yang mencemari lingkungan. “Persepsi masyarakat yang selama ini mengatakan jika sungai hitam, berarti industri meningkat. Itu harus diubah menjadi walaupun industri sedang meningkat, sungainya harus tetap jernih,” imbuh mantan Penjabat Wali Kota Pekalongan itu.

Dijelaskan terkait cara tersebut, Disperindag mengadakan dua pelatihan sekaligus dalam rangka pembinaan lingkungan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Diantaranya penerapan teknologi bersih pada Industri Kecil dan Menengah (IKM) dan Teknik Produksi Desain Fashion bagi Wirausaha Baru.“Tujuan diadakannya acara ini supaya tumbuh wirausaha baru yang kreatif dan inovatif, sekaligus tidak mengesampingkan efek yang timbul di lingkungan sekitar,” jelas Prijo Anggoro. Kota Pekalongan yang merupakan jejaring kota kreatif dunia Unesco mampu menumbuhkan industri batik dan turunannya, sehingga perekonomian rakyat meningkat.

Sementara itu Wali Kota Pekalongan, Alf Arslan Djuneid melalui Kepala Disperindagkop dan UMKM, Supriono, mengatakan bahwa industri yang berkembang di Kota Pekalongan bukanlah sekadar sebuah fisik pakaian batik yang hanya bisa dikenakan saja, melainkan lebih dari itu ada sebuah nilai-nilai yang lebih berharga dari sekadar karya. Namun demikian, hal tersebut tentunya tak jauh dari yang namanya limbah, dan dari limbah tersebut perlu dipikirkan juga pengelolaannya agar bisa mengurangi dampak negatif bagi lingkungan.

Acara pelatihan tersebut turut mengundang mengundang wirausaha baru di wilayah Bakorwil III dari Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, hingga Batang. Dalam acara tersebut dihadirkan juga pakar-pakar wirausaha sebagai narasumber. (han/zal)