April, 8 Wilayah Jateng Uji Coba KTP Anak

382

SEMARANG – Mulai April mendatang, Jawa Tengah akan menguji coba Kartu Tanda Pengenal (KTP) Anak atau Kartu Identitas Anak (KIA) di delapan daerah. Di antaranya Batang, Kota Magelang, Salatiga, Temanggung, Blora, Purworejo, dan Kota Tegal. Wilayah itu dipilih karena punya angka penyelesaian akta kelahiran terbaik.

Fungsi kartu yang diberikan bagi anak usia di bawah 17 tahun dan belum menikah ini untuk keperluan penaftaran sekolah, pendaftaran BPJS, serta kebutuhan administrasi lain. Selain itu, KIA juga punya sejumlah kegunaan. Seperti diskon pembelian buku pelajaran, tiket transportasi kota, dan beberapa keuntungan lain.

Kepala Dinas Tenga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jateng, Wika Bintang menjelaskan, KTP untuk anak ini sengaja diterbitkan untuk memberi kemudahan anak di bawah 17 tahun. Ini merupakan salah satu implementasi dari undang-undang (UU) nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak.

”Saat ini sedang diuji coba di Kota Surakarta, dan agaknya tergolong sukses. Pemerintah Kota Surakarta bisa menggandeng banyak stakeholder untuk memberikan pelayanan plus bagi pemegang KIA. Terutama yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, dan fasilitas milik pemerintah daerah,” ucapnya.

Untuk mendapatkan kartu sakti tersebut, orang tua tidak perlu mengurusnya. Sebab, KIA sudah satu paket dengan penerbitan akta anak. Kartu identitas ini tidak perlu diperpanjang, dan masa berlakunya hanya 17 tahun atau saat anak tersebut diwajibkan punya KTP Elektronik. ”Ini juga untuk mempermudah pendataan penduduk,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Jateng Amin Darmanto menambahkan, diharapkan KIA diterapkan di kota-kota besar, tidak terkecuali Semarang. Hal ini akan mendorong orang tua untuk segera mengurus akta anak setelah lahir. ”Apalagi dengan iming-iming ada fasilitas diskon untuk memenuhi kebutuhan anak,” ucapnya.

Hanya saja, Amin mengingatkan untuk tidak salah sasaran dalam implementasi KIA. Dikhawatirkan, justru orang-orang mampu yang hanya mengurus kartu identitas sakti ini. Sementara warga menengah ke bawah tidak tahu-menahu dan tidak bisa menikmatinya. (amh/ida/ce1)