Amati Benda-Benda Langit hingga Gerhana Matahari

Lebih Dekat dengan Himpunan Astronomi Amatir Semarang (HAAS)

399

”Antusias masyarakat akan gerhana matahari ini cukup besar. Jauh hari banyak yang bertanya terkait fenomena tersebut. Begitu juga mereka yang memesan kacamata dan filter untuk lensa,” ujar Sekretaris HAAS, Nizma Nur Rahmi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

HAAS sendiri sudah terbentuk sejak 6 September 2013 lalu, diprakarsai oleh Dwi, Teguh dan Merah Nega. Ketiganya sama-sama memiliki minat dalam bidang astronomi. Namun demikian tidak satu pun dari mereka yang memiliki latar belakang di bidang tersebut.

”Dari pertemuan di jejaring sosial, kemudian kopdar (kopi darat) dan ngobrol-ngobrol terkait ketertarikan mereka akan dunia astronomi, maka ketiganya pun sepakat untuk membentuk HAAS,” ujar Nizma.

Saat ini, ucapnya, cukup banyak anggota yang tergabung dari berbagai kalangan. Mulai pejalar, mahasiswa, pekerja dan lain sebagainya. Namun untuk anggota yang aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan hanya sekitar 20 orang.

Salah satu kegiatan yang kerap dilakukan adalah pengamatan benda-benda langit. Biasanya mereka menunggu waktu-waktu tertentu. Fase-fase bulan hingga purnama, misalnya. Baru kemudian mereka lanjutkan dengan diskusi dan berbagi informasi.

”Saat-saat pengamatan seperti itu jelas seru sekali. Dengan menggunakan teleskop, kita bisa melihat jelas seperti apa sih sebetulnya bulan itu, kawahnya dan lain sebagainya,” kata mahasiswi Jurusan Ilmu Falak Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini.

Tak hanya melakukan pengamatan dan diskusi, mereka juga menyebarkan pengetahuan yang dimiliki terkait astronomi pada masyarakat. Baik melalui selebaran, jejaring sosial, maupun sosialisasi langsung ke sekolah dan universitas.

”Mulai Februari lalu kita juga mengajar ke anak-anak homeschooling, berbagi ilmu seputar astronomi,” ujarnya.

Namun begitu, karena sebagian besar pengurus merupakan mahasiswa, mereka juga kerap kali terbentur oleh waktu dan kegiatan di kampus. Ke depan diharapkan akan lebih banyak masyarakat yang bergabung, sehingga bisa lebih saling menggali dan berbagai ilmu ke masyarakat. ”Sesuai dengan tujuan awalnya berbagi ilmu astronomi ke masyarakat dan pengamatan bareng masyarakat, khususnya warga Semarang,” tandas Nizma. (*/aro/ce1)