Menurutnya, selain sirap, panitia haul juga telah memperbaiki menara masjid termasuk jam penanda waktu yang ada di dalam menara tersebut. “Menara masjid diperbaiki karena sudah berusia sekitar 50 tahun. Jam tradisional yang suaranya mirip lonceng ini juga di-service supaya berfungsi lagi,” katanya.

Adapun, halaman Masjid Agung kini juga telah dipasang granit. Dengan demikian, halaman masjid tampak lebih luas untuk menampung jamaah yang meluber.

“Haul Raden Fatah ini juga ditandai dengan sunatan masal tabarukan. Ada 60 peserta dari Demak dan daerah lain, seperti dari Grobogan, Pati, Kebumen, Banjarnegara dan sekitarnya,” jelas Niam, mantan Kepala Depag Demak ini.

Ketua Ta’mir Masjid Agung Demak, KH Muhammad Asyiq mengatakan, setidaknya ada 13 kegiatan, termasuk pawai panjang jimat tersebut. Puncak acara haul pada 21 Maret nanti akan digelar pengajian akbar dengan menghadirkan Habib Lutfi bin Yahya dari Pekalongan dan KH Ahmad Chalwani dari Purworejo.

Menurutnya, Haul Raden Fatah dilakukan setiap tahun. Ini mengacu pada sejarah zaman Nabi Muhammad SAW. Ketika itu, Rasulullah bersama tiga sahabatnya Abu Bakar RA, Umar RA dan Usman RA selalu hadir di Jabal Uhud dimana banyak kaum muslimin yang gugur dan dimakamkan disana. “Jadi, haul ini sebagai sarana menghargai jasa para pahlawan. Nah, Kanjeng Sultan Fatah ini peletak dasar perjuangan Islam di tanah Jawa bersama Walisongo sehingga patut diteladani dan diapresiasi terkait perjuangan beliau tersebut,” katanya.

Kiai Muhammad Asyiq menambahkan, pawai panjang jimat memiliki arti penting. “Istilah panjang jimat sebelumnya dipopulerkan oleh Habib Lutfi bin Yahya. Panjang memiliki arti panjang (dowo). Sedangkan, jimat itu berarti nguri-uri. Karena itu, tradisi haul Raden Fatah ini kami lestarikan terus menerus tiap tahun,” ujar Kiai Asyiq yang juga Ketua MUI Demak tersebut. Hadir dalam kegiatan itu, pengurus Ta’mir Masjid Agung KH Arief Cholil, Kabag Kesra Pemkab Demak Anang Badrel Kamal, Kepala Disperindagkop Eko Prionggolaksito, Kepala Perpustakaan dan Arsip H Jauhar Arifin dan lainnya. (hib/ida)