PEDULI LINGKUNGAN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (kelima dari kiri), dan Dirut PT RNI Didik Prasetyo (keempat dari kanan) saat simbolisasi penyerahan bibit mangrove di Pantai Maron. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
PEDULI LINGKUNGAN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (kelima dari kiri), dan Dirut PT RNI Didik Prasetyo (keempat dari kanan) saat simbolisasi penyerahan bibit mangrove di Pantai Maron. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
PEDULI LINGKUNGAN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (kelima dari kiri), dan Dirut PT RNI Didik Prasetyo (keempat dari kanan) saat simbolisasi penyerahan bibit mangrove di Pantai Maron. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
PEDULI LINGKUNGAN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (kelima dari kiri), dan Dirut PT RNI Didik Prasetyo (keempat dari kanan) saat simbolisasi penyerahan bibit mangrove di Pantai Maron. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Kota Semarang kini memiliki tempat wisata pendidikan hutan bakau bernama Mangrove Edu Park. Lokasinya berada di kawasan Pantai Maron, tak jauh dari bandara internasional Ahmad Yani. Destinasi tersebut kini terus dikembangkan. Salah satunya dengan penanaman sekitar 15.000 bibit mangrove oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Sabtu (12/3).

Penanaman dilakukan untuk menahan laju abrasi di daerah pesisir pantai utara Semarang yang kian memprihatinkan. Dirut PT RNI Didik Prasetyo mengatakan penanaman mangrove dilakukan karena di lokasi tersebut setiap tahun mengalami abrasi hingga 50 meter. ”Kondisi tersebut dikhawatirkan mengancam keberadaan landasan pacu bandara,” katanya.

Berdasarkan data Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip, abrasi dan faktor lainnya membuat ekosistem laut Semarang yang punya garis pantai 36,60 km rusak. Kerusakan memengaruhi luasan ekosistem terumbu karang di Jateng yang menyusut dari 1.377,18 hektare menjadi 987,62 hektare.