Warga Punggangan Tuntut Listrik Masuk Desa

334
GELAP : Warga Desa Punggangan, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan hingga kini belum bisa menikmati listrik dan masih menggunakan lampu sentir untuk penerangan di malam hari. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GELAP : Warga Desa Punggangan, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan hingga kini belum bisa menikmati listrik dan masih menggunakan lampu sentir untuk penerangan di malam hari. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GELAP : Warga Desa Punggangan, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan hingga kini belum bisa menikmati listrik dan masih menggunakan lampu sentir untuk penerangan di malam hari. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GELAP : Warga Desa Punggangan, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan hingga kini belum bisa menikmati listrik dan masih menggunakan lampu sentir untuk penerangan di malam hari. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Puluhan warga Dusun Pliken, Desa Punggangan, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, menuntut listrik masuk desa ke Pemkab Pekalongan, Jumat (11/3) kemarin. Pasalnya dari 278 desa yang ada di Kabupaten Pekalongan, hanya Desa Punggangan, yang belum teraliri listrik.

Kepala Desa Punggangan, Kecamatan Doro, Rubai, mengungkapkan bahwa suasana desanya jika malam hari, seperti desa mati yang tidak berpenghuni. Karena gelap gulita dan tanpa kegiatan. Penerangan warga sebagian besar menggunakan lampu sentir yang berbahan bakar solar. “Padahal jarak desa dengan Ibukota Kabupaten Pekalongan, Kajen, hanya 25 kilometer,” katanya , saat pelaksanaan PIN Polio di Kantor Balai Desa Punggangan.

Ditambahkan, anak-anak juga kesulitan belajar, karena tidak ada penerangan. Sedangkan bahan bakar minyak tanah, sebagai bahan bakar yang digunakan untuk penerangan lampu sentir, harganya sangat mahal dan sulit diperoleh. “Sehingga warga mengganti dengan bahan bakar solar, meski menimbulkan bau yang tak sedap,” imbuhnya.

Silakan beri komentar.