RUWAT MASAL: Sebanyak 33 peserta ruwat masal Sirnaning Sukerta di aula TBRS sebagi wujud mengembalikan fitrah manusia seperti lahir kembali. (jpg)
RUWAT MASAL: Sebanyak 33 peserta ruwat masal Sirnaning Sukerta di aula TBRS sebagi wujud mengembalikan fitrah manusia seperti lahir kembali. (jpg)
RUWAT MASAL: Sebanyak 33 peserta ruwat masal Sirnaning Sukerta di aula TBRS sebagi wujud mengembalikan fitrah manusia seperti lahir kembali. (jpg)
RUWAT MASAL: Sebanyak 33 peserta ruwat masal Sirnaning Sukerta di aula TBRS sebagi wujud mengembalikan fitrah manusia seperti lahir kembali. (jpg)

SEMARANG – Sebanyak 33 orang mulai dari usia 4 tahun sampai 50 tahun terlihat seragam memakai pakaian serbaputih. Keseragaman itu juga terlihat saat mereka duduk berjejer rapi serta mengikuti proses zikir dan pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang dipimpin oleh KH Machfud Kholiq.

Ya, mereka sedang menggelar tradisi ruwat masal Sirnaning Sukerta di sebuah acara Pergelaran Wayang Kulit Jumat Kliwon yang diadakan oleh Teater Lingkar Semarang di Gedung Pertemuan di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Kamis (10/3) malam.

”Masyarakat Jawa mengenal ruwatan sebagai bagian dari usaha mencegah bahaya. Ruwatan sendiri berarti bebas atau lepas. Tentu yang dimaksud adalah lepas dari sengkala atau bahaya. Kata sengkala boleh berarti dari Sang Kala, sebutan untuk Bathara Kala,” tutur Mas Ton, pendiri Teater Lingkar.