MANYARAN – Terdakwa Bos CV Aurora Puspita, Aryanti Purborini alias Ana dijatuhi tuntutan paling berat di antara 3 terdakwa lainya, dalam perkara kasus dugaan tindak pidana korupsi proyek pengerjaan dan pengadaan alat praktik peraga Sekolah Dasar pada Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal 2012 yang merugikan keuangan negara sekitar Rp 1,7miliar. Tuntutan tersebut dibacakan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (10/3) kemarin.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jateng, Sri Heryono dan Slamet Widodo menuntut pidana tehadap terdakwa Ana selama 4 tahun 6 bulan penjara dan membebankan pengembalian Uang Pengganti (UP) kerugian negara sekitar Rp 1,7 miliar subsider 2 tahun penjara, serta denda Rp 50 juta subsider 6 bulan kurungan.

Sementara tiga terdakwa dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal, yakni mantan Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas), Bidang Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) pada Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal; Suciptono, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 5 Kabupaten Kendal juga ketua panitia pengadaan; Sudar Yasrodji, Guru SMKN 2 Kabupaten Kendal juga sekretaris pengadaan; Agus Winoto masing-masing dituntut selama 2 tahun penjara dikurangi masa tahanan yang telah dijalani.

Mendengar tuntutan tersebut, terdakwa Ana langsung mengeluarkan air mata, bahkan isak tangisnya terdengar pelan, sementara 3 terdakwa lainnya terlihat tegar. Ketika ditanya ketua majelis hakim para terdakwa mengaku sudah mendengar tuntutan tersebut dan akan mengajukan pembelaan. Sidang ditunda hingga Selasa, 22 Maret 2016 mendatang dengan agenda pembelaan para terdakwa.

Perlu diketahui, kasus ini bermula saat Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal berencana melakukan kegiatan pengadaan alat praktik peraga/praktik sekolah 2012. Untuk kegiatan itu, Pemkab Kendal mengucurkan anggaran senilai Rp 6,3 miliar yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2012.

Dana itu seyogianya digunakan untuk pengadaan alat peraga di 122 sekolah dasar se-Kabupaten Kendal. Alat peraga meliputi pendidikan matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, bahasa, pendidikan kesehatan dan olahraga, seni budaya serta keterampilan siswa sekolah dasar.

Dalam kasus tersebut, diduga kuat melibatkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kendal, Muryono namun hingga saat ini belum ada penetapan tersangka, bahkan dalam persidangan Muryono sering mangkir. (jks/zal/ce1)