MENUNGGU DAN MENUNGU: Johan Yoga Utama, salah satu pemain yang akan memperkuat PSIS apabila kompetisi ISC jadi diselenggarakan, bersama para pemain lain saat seleksi beberapa waktu lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENUNGGU DAN MENUNGU: Johan Yoga Utama, salah satu pemain yang akan memperkuat PSIS apabila kompetisi ISC jadi diselenggarakan, bersama para pemain lain saat seleksi beberapa waktu lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENUNGGU DAN MENUNGU: Johan Yoga Utama, salah satu pemain yang akan memperkuat PSIS apabila kompetisi ISC jadi diselenggarakan, bersama para pemain lain saat seleksi beberapa waktu lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENUNGGU DAN MENUNGU: Johan Yoga Utama, salah satu pemain yang akan memperkuat PSIS apabila kompetisi ISC jadi diselenggarakan, bersama para pemain lain saat seleksi beberapa waktu lalu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – PSIS sangat antusias mendengar akan dilangsungkannya kompetisi baru sepak bola Indonesia bertitel Indonesia Soccer Championsip (ISC) yang memainkan tim eks ISL (ISC A) dan eks divisi utama (ISC B). Meski telah melakukan berbagai persiapan termasuk perekrutan tim, namun manajemen saat ini memutuskan untuk menunggu perkembangan lebih lanjut.

Apalagi, sampai saat ini regulasi dan aturan ISC B yang akan diikuti PSIS nanti masih belum jelas. Seperti aturan penggunaan pemain asing hingga soal pemain yang pernah dijatuhi hukuman akibat tragedi sepak bola gajah 2014 silam. Lebih dari itu, adalah persoalan pembekuan PSSI yang masih menjadi ganjalan dan tak kunjung ada penyelesaian.

Direktur teknik PSIS Setyo Agung Nugroho mengakui, memang ada keraguan saat manajemen akan membentuk tim. Dikhawatirkan, pemerintah dalam hal ini Kemeterian Pemuda dan Olahraga RI tidak sepakat sehingga perizinan kompetisi tersebut kembali terganjal. “Sekarang ini bagi klub, yang terpenting adalah kejelasan jadi atau tidaknya kompetisi tersebut. Artinya, mendapat izin dari kepolisian atau tidak? Kalau kita menyiapkan tim tapi ternyata izin dari kepolisian untuk menggelar pertandingan tidak didapat, maka akan sia-sia. Apalagi kita membentuk tim juga harus mengeluarkan uang yang tdiak sedikit,” tandas Agung, kemarin.

Jaminan soal boleh terselenggaranya kompetisi ISC tersebut dirasa sangat penting, mengingat pengalaman yang lalu-lalu. “Jadi penyelenggara atau operator kompetisi harus bisa menjamin itu dulu. Tapi juuga jangan terlalu mepet dengan kompetisi, sehingga kita bisa kerepotan membentuk tim nanti,” harapnya.

Yang jelas, Agung dan PSIS sangat berharap kompetisi ISC tersebut bisa terselenggara. Sudah sekian lama publik dan pecinta sepak bola di Indonesia termnasuk di Semarang menantikan kompetisi, tak sekadar turnamen. Apalagi turnamen yang selama berlangsung tidak pernah mengikutsertakan klub eks divisi utama, hanya klub eks ISL saja yang dimanjakan dengan kompetisi. (smu)