KONTROVERSI: Salah satu sudut lokalisasi Sunan Kuning, Kalibanteng Kulon, Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KONTROVERSI: Salah satu sudut lokalisasi Sunan Kuning, Kalibanteng Kulon, Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KONTROVERSI: Salah satu sudut lokalisasi Sunan Kuning, Kalibanteng Kulon, Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KONTROVERSI: Salah satu sudut lokalisasi Sunan Kuning, Kalibanteng Kulon, Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Wacana penutupan dua lokalisasi di Semarang, yakni Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning (SK) dan dan Gambilangu (GBL) mulai menuai kontroversi. Sebab, diperkirakan penutupan tersebut justru menimbulkan masalah baru. Seperti muncul pekerja seks komersial (PSK) yang mangkal di pinggir jalan atau sindikat bisnis esek-esek berbasis online.

Salah satu pelanggan yang kerap ’jajan’ di SK menuturkan, penutupan dua lokalisasi besar di Semarang tidak akan menurunkan jumlah PSK. Bisa jadi para PSK justru pindah lokasi atau punya modus baru untuk menjajakan tubuh mereka. ”Bisa mangkal di pinggir jalan atau di depan hotel murahan, atau buka praktik via handpone atau media sosial dan langsung check in di hotel,” jelas pria yang enggan disebutkan identitasnya itu.

Bahkan, menurutnya, penutupan lokalisasi akan membuat harga pasaran PSK melonjak tinggi tanpa disertai kontrol terhadap penyakit kelamin. Dia mencontohkan, kasus yang terjadi di Surabaya. Setelah Gang Dolly ditutup, tarif PSK eks Dolly bisa mencapai Rp 500 ribu untuk short time, belum termasuk hotel. ”Padahal pasaran di Dolly hanya sekitar Rp 250 ribu, sudah all in,” tegasnya.