TEGAL – Perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) masih menjadi perhatian sejumlah pihak. Tidak hanya di kota-kota besar, perbincangan LGBT juga merembet hingga ke daerah. LGBT kini sudah tak asing lagi terdengar di telinga, termasuk bagi warga Kota Tegal. Saat ini, LGBT bukan lagi fenomena yang bisa membelalakkan mata, karena sudah terkesan biasa.

Di Kota Tegal sendiri, mereka disebut kerap berkumpul di sejumlah pusat keramaian, salah satunya, Alun-Alun Tegal. Menanggapi itu, anggota DPRD Kota Tegal Rofii Ali meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal serius mencegah berkembangnya LGBT dengan melakukan penertiban. “Kami minta Pemkot melakukan penertiban, agar tidak menularkan ke orang lain,” ujarnya.

Rofii sepakat, kampanye LGBT merupakan proxy war dari negara asing untuk menghancurkan bangsa ini dari dalam, tanpa melalui peperangan fisik. “Setelah dilakukan penertiban, pemkot perlu memberikan konseling kepada mereka secara gratis,” jelasnya.

Sekretaris Komisi III ini mengutarakan, langkah pencegahan membutuhkan kerjasama berbagai pihak. Mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga keluarga. Peran keluarga dibutuhkan dalam membentengi anak-anak dari pergaulan bebas.

Senada Rofii, Ketua Komisi I Hery Budiman meminta Pemkot menggandeng semua unsur tersebut. “Jelas, agama mengharamkan hubungan sesama jenis. Karena itu, dibutuhkan peran pemkot, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan keluarga untuk bersama-sama mengantisipasi penyebaran LGBT di Kota Tegal, yakni dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui sosialisasi,” ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa tersebut. (nam/jpnn/ric)