Penghuni Lokalisasi SK Pasrah

297

SEMARANG — Pengelola Resos Argorejo Sunan Kuning (SK) menyerahkan sepenuhnya kepada Wali Kota Semarang terkait kebijakan penutupan lokalisasi yang berada di wilayah Kalibanteng tersebut.
”Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Pasalnya yang membuka lokalisasi ini waktu itu Wali Kota Semarang,” ungkap Suwandi selaku Ketua Resos Argorejo.

Menurut Suwandi, penutupan SK ini tidak bisa disamakan dengan penutupan lokalisasi Kalijodo, Jakarta. Karena di resos Argorejo tidak murni lokalisasi, melainkan menjadi tempat resosialisasi, di mana anak asuhnya akan mendapatkan pelatihan agar bisa mendapatkan keterampilan dan terentaskan dalam dunia prostitusi. ”Kalau di Kalijodo itu murni PSK tetapi kalau di SK itu setiap anak asuh diwajibkan untuk mengikuti pelatihan yang tujuannya untuk bekal mereka kemudian,” katanya.

Kekhawatiran apabila lokalisasi SK itu ditutup maka yang terjadi banyaknya PSK yang berkeliaran sehingga mereka sulit dipantau, padahal kalau berada di lokalisasi mereka secara kesehatan dilakukan suntik oleh tenaga medis kesehatan dari Puskesmas setempat. ”Tetapi kalau berkeliaran di jalan kesehatan mereka tidak terpantau sehingga yang dikhawatirkan penyakit semakin merajalela,” imbuhnya.

Suwandi mengklaim, sejak 2004 sampai 2016 ini jumlah anak asuh dikurangi. Mereka yang sudah usia tua diperkenankan untuk keluar dengan membuka usaha atau wiraswasta yang keahlian tersebut diperoleh ketika menempati lokalisasi. ”Mereka itu berusia antara 30 sampai 40 tahun dan sebelum keluar telah diberi keahlian entah itu salon atau potong rambut dan menyulam. Sehingga setelah keluar mereka bisa membuka keterampilan tersebut di kampungnya,” akunya.

Tidak hanya itu masing-masing anak asuh diwajibkan untuk menabung sehingga ketika keluar mereka sudah siap baik dari segi modal mapun keahlian. ”Mereka itu sudah siap semua baik dari keahlian atau modal sehingga tinggal membuka usaha,” katanya.

Selain itu, untuk masalah keagamaan, katanya, pihak lokalisasi itu sendiri juga mengundang ulama atau dai untuk berceramah, sehingga bagi anak asuh yang menjalani akan merasa berdosa sehingga bisa insyaf. ”Tidak hanya dari sisi materi saja tetapi dari sisi rohani mereka juga diberi siraman rohani agar mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar,” tandasnya. (hid/zal/ce1)