Ribuan Pekerja Asing Perpanjang Izin

381

SEMARANG – Pekerja Asing semakin eksis dan betah bekerja di Jawa Tengah. Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jawa Tengah, sejak Januari 2016 mencatat ada 1.823 pekerja asing memperpanjang izin sebagai tenaga kerja di Jawa Tengah. Sebanyak 519 orang di antaranya berasal dari Tiongkok, 328 dari Korea Selatan, 128 orang berasal dari India, 126 orang asal Jepang, dan 123 orang berasal dari Taiwan. Sedangkan sebanyak 56 orang lainnya berasal dari berbagai negara lain.

Ketua Serikat Pekerja Nasional Jawa Tengah, Heru Budi Utoyo, berharap jika perekrutan tenaga kerja asing memang tidak bisa dihindarkan karena kebutuhan perusahaan. Namun yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah membatasi. Hal itu penting agar keberadaan tenaga kerja asing tidak menggeser tenaga kerja lokal. “Tentu sangat ironis kalau pekerja asing berbondong-bondong ke Jateng sementara kondisinya di sini masih banyak pengangguran. Kalau memang bisa dikerjakan pekerja lokal, tidak perlu menggunakan tenaga asing,” katanya.

Menurutnya, potensi tenaga kerja lokal perlu digali. Sebab masih banyak tenaga produktif di Jateng yang belum mendapatkan pekerjaan. Selain itu, syarat bahasa harus diperketat. Tenaga kerja asing harus bisa mengusai Bahasa Indonesia. “Ini berkaitan hubungan industrial, agar jangan sampai terjadi miskomunikasi,” terangnya.

Selain bahasa, adalah pembatasan upah tenaga asing harus seimbang dengan pekerja lokal sesuai dengan posisi jabatan pekerjaan tersebut. Yang terjadi di Jateng, pekerja lokal mendapat upah rendah, akan tetapi justu para pekerja asing mendapat upah lebih tinggi. “Para pekerja asing tersebut kebanyakan menempati jenis pekerjaan dalam bidang tenaga ahli barang ekspor dan bahasa asing dengan spesifikasi negara yang dituju,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jawa Tengah, Wika Bintang.

Wika menjelaskan, tenaga kerja asing kebanyakan bekerja di sektor garment dan furniture, yakni menempati jabatan direktur pemasaran. “Misalnya kebutuhan ekspor furniture di Jepara. Jika mau ekspor ke negara Italia misalnya, kita sendiri terkendala bahasa. Makanya dibutuhkan tenaga ahli dengan kualifikasi tersebut,” terangnya.

Selain furniture Jepara, ada produk kayu dari Temanggung, garment dari Kabupaten Semarang dan Solo Raya. Dikatakannya, data tersebut merupakan secara keseluruhan tenaga kerja asing di Jateng. Proses perizinan awalnya dilakukan di Jakarta. Tapi melakukan perpanjangan izin di Jateng karena lokasi pekerjaannya berada di wilayah Jateng. “Pemerintah pusat saat ini sudah memiliki batasan ketat mengenai kompetensi tenaga kerja asing. Selama masih dalam ketentuan batasan kompetensi tersebut, tidak ada masalah,” terang dia. (amu/smu)