Ia mencontohkan, untuk mengetahui bagaimana sebuah gadget bekerja bukanlah ranah dari kegiatan Pramuka. Akan tetapi, ketika gadget itu digunakan sebagai media pendidikan, maka tidak ada salahnya digunakan. “Dulu perintah kumpul hanya menggunakan peluit dan kentongan. Saat ini bisa diganti melalui radio dan handphone,” terangnya.

Budi menegaskan, subtansi pendidikan karakter adalah bagaimana memberikan pengalaman baru. Selain itu, juga memberikan alternatif atas hal-hal yang biasa. Misalnya menciptakan api dengan cara menggosok batu ketika tidak ada korek api. “Saya juga pernah memberikan pelatihan bagaimana menanak nasi biasa, nasi ayam, dan nasi ayam sayur hanya cukup menggunakan satu rice cooker,” pungkas pria yang baru saja mengikuti Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Lanjutan (KPL) di Korea itu. (fai/ida)