Djoko Setijowarno (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)
Djoko Setijowarno (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)
Djoko Setijowarno (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)
Djoko Setijowarno (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)

TREM dulu menjadi angkutan masal, kata pengamat tranpsortasi di Universitas Katholik (Unika) Soegijapranata, Djoko Setijowarno, di saat wilayah Kota Semarang hanya berbatas Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur dengan jumlah penduduk yang masih sangat sedikit. Kala itu masih banyak kayu jati yang bisa dijadikan untuk bahan bakar uap. “Dulu ada trem, karena industri otomotif tak sebagus sekarang,” tuturnya.

Yang perlu diambil pelajaran dari sejarah tersebut adalah semangatnya dalam memfasilitasi kebutuhan transportasi masyarakat dari pusat pemerintahan, perdagangan maupun tempat-tempat lain. “Untuk era sekarang, mengembangkan angkutan masal harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keuangan pemerintah,” katanya.

Memang pemerintah pusat sedang gencar mengembangkan light rail transit (LRT). Bahkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng juga saat ini sedang melakukan kajian untuk membangun LRT untuk wilayah Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, dan Purwodadi atau aglomerasi Kedungsepur. “Namun Kota Semarang yang perlu dikuati justru pengembangan bus rapid transit (BRT) dulu. Sambil memikirkan dan menyiapkan LRT untuk 5 atau 10 tahun lagi,” katanya.