DIKEBUT: Pekerja menyelesaikan pembuatan landasan pada proyek pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, kemarin. Pembangunan bandara tersebut diharapkan selesai akhir 2017. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKEBUT: Pekerja menyelesaikan pembuatan landasan pada proyek pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, kemarin. Pembangunan bandara tersebut diharapkan selesai akhir 2017. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKEBUT: Pekerja menyelesaikan pembuatan landasan pada proyek pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, kemarin. Pembangunan bandara  tersebut diharapkan selesai akhir 2017. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKEBUT: Pekerja menyelesaikan pembuatan landasan pada proyek pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, kemarin. Pembangunan bandara tersebut diharapkan selesai akhir 2017. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pembangunan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang boleh dibilang memaksakan kondisi lahan. Jika umumnya dibangun di atas tanah solid, renovasi bandara ini justru merambah ke tanah lembek. Praktis, banyak kendala yang harus dihadapi agar memenuhi standar kekuatan fondasi yang kokoh.

Pimpinan Proyek (Pimpro) Angkasa Pura, Endah Preastuty menjelaskan, butuh reklamasi yang cukup besar untuk menambah luasan bandara. Tambak-tambak yang berada di sebelah utara Ahmad Yani, harus diuruk. ”Setiap hari, ada sekitar 3-6 ribu tonase tanah uruk,” paparnya di kantor Angasa Pura 1, Kamis (3/3).

Pengurukan ini bukan tanpa kendala. Selain mencari material untuk penimbunan, memadatkannya pun butuh waktu. Hingga sekarang, tanahnya masih belum benar-benar solid. Kondisi tanah seperti ini, juga menjadi ganjalan truk bermuatan untuk melintasinya. ”Kalau terkena air hujan, tanahnya bisa bikin goyang. Tapi kalau sudah kena panas, cepat mengering dan bisa sangat keras,” imbuhnya.