Pembinaan PSK Sunan Kuning Terus Dipantau

968
DIBINA: Dinsospora Kota Semarang terus melakukan pantauan dan pembinaan terhadap penghuni Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning (SK). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIBINA: Dinsospora Kota Semarang terus melakukan pantauan dan pembinaan terhadap penghuni Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning (SK). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIBINA: Dinsospora Kota Semarang terus melakukan pantauan dan pembinaan terhadap penghuni Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning (SK). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIBINA: Dinsospora Kota Semarang terus melakukan pantauan dan pembinaan terhadap penghuni Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning (SK). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Rata-rata penyandang profesi pekerja seks komersial (PSK) di Resosialisasi Argorejo Sunan Kuning (SK) Kota Semarang hanyalah untuk mencari modal. Dalam lima bulan, ada beberapa PSK yang mampu menabung hingga tembus Rp 70 juta.

Melihat fenomena itu, Dinas Sosial, Pemuda, dan Olahraga (Dinsospora) Kota Semarang akan menekan pembinaan keterampilan agar para PSK bisa mendapatkan uang dari kerja halal.

Kepala Dinsospora Kota Semarang, Gurun Risyadmoko menuturkan, banyak pengakuan PSK yang ingin segera beralih profesi. Kebanyakan memilih membuka salon dan rumah makan. ”Selain melakukan pengawasan, kami juga memberikan pembekalan untuk kembali ke kehidupan normal. Banyak yang ingin diajari memasak dan salon,” ucapnya setelah menggelar pantauan di kompleks SK, Kamis (3/3).

Pemantauan tersebut, tidak saja di ruang aula yang menjadi ruang pembinaan para PSK yang mayoritas dari luar Kota Semarang, juga di ruang pemeriksaan kesehatan dan loket setoran tabungan ke salah satu bank yang dikoordinatori oleh pengurus resos.

Meski Argorejo telah memberi peran dalam membina para PSK, Gurun mengaku pemerintah kota akan mengikuti apa yang diprogramkan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Sosial terkait masa depan tempat yang lebih dikenal dengan sebutan Lokalisasi Sunan Kuning. ”Jika pemerintah pusat menginginkan ditutup tentu kita harus mengikuti keinginan dan menjalankan program pemerintah pusat,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu PSK asal Magelang mengaku punya niat menabung untuk membuka usaha rumah makan. ”Jika bisa mau punya warung sendiri. Makanya menabung untuk kumpulkan modal,” akunya.

Wanita yang belum genap setahun menjual diri ini enggan menyebutkan berapa nominal tabungan yang sudah dikumpulkan. Dia hanya membeberkan, tidak sampai tiga tahun, dia bisa mengumpulkan nominal yang ditargetkan untuk membuka usaha.

Terkait semangat PSK dalam mengumpulkan modal, Ketua Pengurus Resosialisasi Argorejo, Suwandi HS mengaku senang. Dengan semangat menabung yang di antaranya telah mencapai Rp 70 juta hanya dalam waktu sekitar lima bulan diharapkan para PSK bisa segera memiliki usaha sendiri. ”Jika dulu sekitar 700 anak asuh, saat ini jumlah yang ada hanya sekitar 500 anak asuh,” tegasnya. (amh/zal/ce1)