ATUR STRATEGI: Direksi PT Phapros telah menyiapkan strategi untuk mensiasati tingginya kebutuhan alat implan. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ATUR STRATEGI: Direksi PT Phapros telah menyiapkan strategi untuk mensiasati tingginya kebutuhan alat implan. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ATUR STRATEGI: Direksi PT Phapros telah menyiapkan strategi untuk mensiasati tingginya kebutuhan alat implan. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ATUR STRATEGI: Direksi PT Phapros telah menyiapkan strategi untuk mensiasati tingginya kebutuhan alat implan. (ISMU P/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Masih minimnya ketersediaan Alat Kesehatan (Alkes) di Indonesia membuat kondisi harus melakukan impor dari luar negeri. Salah satunya adalah alat implan tulang atau Osteosynthesis. Kebutuhan alat ini dipergunakan untuk menangani korban patah tulang. Tentu hal itu imbas dari tingginya angka kecelakaan lalu-lintas yang menyebabkan banyak korban patah tulang.

“Sejauh ini, sebanyak 94 persen Alkes Indonesia masih impor dari luar negeri. Hanya 6 persen yang diproduksi sendiri,” kata Direktur Utama PT Phapros, Iswanto, beberapa waktu lalu.

Dikatakannya, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, korban kecelakaan lalu lintas masih tinggi sehingga membutuhkan alat kesehatan terutama implan tulang atau Osteosynthesis yang dipergunakan untuk menangani korban patah tulang. “Kecelakaan lalu-lintas menempati peringkat kedua di tahun 2015, setelah penyakit stroke sebagai penyebab kematian di masyarakat,” katanya.