UNGARAN – Sebanyak 26 pusat kesehatan kesehatan (Puskesmas) di Kabupaten Semarang ternyata belum memiliki instalasi pengolahan limbah medis, khususnya limbah kategori bahan berbahaya dan beracun (B3). Bahkan mayoritas puskesmas belum dilengkapi fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk mengolah limbah cair medis.

Ketua Forum Komunikasi Profesi Kesehatan (FKPK) Kabupaten Semarang, Ahmad Arifin, mengatakan, pengolahan limbah B3 di Kabupaten Semarang dikerjasamakan dengan (model) jejaring. “Di Kabupaten Semarang pakai perusahaan rekanan sebagai transporter,” kata Arifin, Kamis (4/3).

Dikatakannya, saat ini Kabupaten Semarang juga mengirim limbah yang dibawa perusahaan itu untuk dikirim ke pengolah atau pemusnah limbah. “Hampir semuanya pakai jejaring, termasuk rumah sakit dan puskesmas. Tidak hanya yang swasta, yang negeri saja pakai jejaring,” ujarnya.

Menurut Arifin, ada beberapa hal yang menyebabkan fasilitas kesehatan belum punya fasilitas pengolah limbah medis B3 secara mandiri. Salah satunya terbatasnya lahan. “Lahan yang ada sudah digunakan untuk fasilitas lain,” katanya.

Selain itu, para pelaku profesi kesehatan juga belum paham mengenai aturan pengolahan limbah. Selama ini, kata dia, mengacu pada aturan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pengolahan limbah B3 cukup dilakukan melalui kerjasama perusahaan transporter. Menyusul kemudian aturan yang menyatakan kewajiban penyediaan fasilitas pengolah limbah B3 “Peraturan dari Kemenkes dengan aturan LH (lingkungan Hidup) sering ada perbedaan. Dulu-dulu kan tidak ada aturan itu, aturannya baru-baru saja,” ujarnya.