NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

SEMARANG – Insiden kebakaran berturut-turut yang melumat Pasar Johar dan Pasar Yaik belakangan, memantik pendapat pengamat sejarah. Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Kota Semarang menilai keberadaan lahan Pasar Yaik sebenarnya menempati lahan alun-alun yang digunakan sebagai pusat peradaban Kota Semarang.

”Idealnya, Pasar Yaik dikembalikan fungsinya sebagai alun-alun kota. Itu sesuai dengan fungsi awalnya yakni sebagai pusat peradaban masyarakat Kota Semarang,” ujar Koordinator KPS Kota Semarang, Rukardi, kemarin.

Menurutnya, keberadaan Pasar Yaik telah menempati lahan Alun-alun Kota Semarang. Dalam perkembangannya, lahan tersebut menampung para pedagang kaki lima hingga meluber di Pasar Johar. Kondisi itu membuat alun-alun berubah fungsi menjadi pusat perdagangan. ”Kalau mengingat sejarah kota, pemerintah perlu memikirkan hal itu. Gagasan itu pernah muncul di era pemerintahan Wali Kota Sukawi Sutarip,” katanya.

Hal itu tidak sepenuhnya berhasil. Hanya sebagian lahan bekas alun-alun dijadikan untuk lahan parkir dan pos polisi. Namun demikian, pihaknya mengakui bahwa untuk mengembalikan Pasar Yaik ke fungsi awal sebagai pusat alun-alun tidak mudah. Sebab hal itu menyangkut kepentingan ribuan pedagang yang puluhan tahun menetap.

”Para pedagang menutup alun-alun menjadi lapak permanen pedagang pakaian. Pasar Yaik dibangun dan ditempati sejak 1960-1970. Kebijakan mengembalikan fungsi alun-alun ini memang agak berat, namun pemkot mestinya harus cerdas,” katanya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Kota Semarang, Suwanto tidak menolak adanya gagasan tentang memfungsikan Pasar Yaik menjadi alun-alun. ”Rancangan menjadikan sebagian Pasar Yaik sebagai alun-alun itu sudah ada. Kami tawarkan ke pemerintah Kota Semarang. Misalnya separo atau sepertiga dari lahan itu dirancang untuk fasilitas publik seperti alun-alun,” katanya.

Menurutnya, untuk melakukan hal itu diperlukan konsep penataan secara matang. Sejauh ini, konsep yang pernah ditawarkan, kata dia, pedagang ditata menempati lantai dasar, sedangkan lantai atas untuk area parkir. Sebagian lahan lainnya bisa ditata sedemikian rupa untuk fasilitas publik seperti alun-alun. ”Penataan pedagang pakaian di lantai dasar dikarenakan kalau ditempatkan di lantai atas kemungkinan tak laku,” tandasnya. (amu/zal/ce1)