PERKIRAKAN CUACA: Forecaster BMKG Jawa Tengah, Septima Ernawati tengah memantau layar komputer yang menunjukkan laju angin untuk memperkirakan curah hujan hingga seminggu ke depan. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERKIRAKAN CUACA: Forecaster BMKG Jawa Tengah, Septima Ernawati tengah memantau layar komputer yang menunjukkan laju angin untuk memperkirakan curah hujan hingga seminggu ke depan. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERKIRAKAN CUACA: Forecaster BMKG Jawa Tengah, Septima Ernawati tengah memantau layar komputer yang menunjukkan laju angin untuk memperkirakan curah hujan hingga seminggu ke depan. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERKIRAKAN CUACA: Forecaster BMKG Jawa Tengah, Septima Ernawati tengah memantau layar komputer yang menunjukkan laju angin untuk memperkirakan curah hujan hingga seminggu ke depan. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Gerhana matahari total yang terjadi setiap 33 tahun diperkirakan terjadi di Indonesia, 9 Maret mendatang. Sayang, momen langka itu hanya bisa dilihat di daerah tertentu saja, terutama yang berdekatan dengan garis khatulistiwa.

Jawa Tengah tidak termasuk masuk dalam wilayah yang dilalui gerhana matahari total. Forecaster Badan Meteorologi, Kilimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah, Septima Ernawati membeberkan, area Jawa Tengah mungkin tidak terlalu berpengaruh. Sebab, semakin ke selatan, intensitas gerhana matahari semakin tidak bisa disaksikan.

”Saya sendiri belum yakin, apakah memang sama sekali tidak berpengaruh, atau masih bisa terlihat meski tidak tampak seperti gerhana matahari total,” paparnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Selasa (1/3).