Akan tetapi sesuai dengan teori-teori perubahan sosial (misalnya menurut Maslow), pembukaan wilayah baru selalu diikuti terbentuknya lingkungan sosial baru. Selain nilai-nilai baru yang ditawarkan, lingkungan sosial yang baru cenderung kurang peka terhadap penipisan nilai-nilai lama yang seharusnya mereka pertahankan. Mereka mempunyai kecenderungan meninggalkan nilai-nilai lama, sementara nilai-nilai baru itu belum mapan benar. Gejala atau fenomena serupa itu terbaca di lingkungan sosial atau keluarga yang tinggal di daerah-daerah sub urban (perbatasan wilayah kota/desa) atau wilayah penyangga (hinterland) di Semarang, semisal Gunungpati, Meteseh, Banyumanik, Bangetayu, dan lain-lain. Efek-efek perubahan sosial serupa ini mestinya juga menjadi bagian yang dipertimbangkan oleh pemerintah dalam merelokasi warganya, sebagaimana terjadi pada (sebagian) warga Tambaklorok. Pemerintah tidak hanya mengeksplorasi dampaknya yang positif.

Besar harapan kita Pemerintah Kota Semarang – setidak-tidaknya Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota, DP2K – memberikan perhatian terhadap masalah ini. Masih terlalu banyak masalah yang seharusnya menjadi perhatian lembaga ini terabaikan. Menjadi kewajiban kita semua untuk saling mengingatkan. (*/aro)