Kedua, belum adanya kesepakatan sebagian penduduk Kampung Tambaklorok dengan PT Pelindo II yang berniat menjadikan areal di kampung itu untuk perluasan pelabuhan samudera (Pelabuhan Tanjung Emas), Dan ketiga, kendala relokasi penduduk karena tidak/belum tersedianya lapangan kerja yang sesuai, sehubungan dengan perpindahan profesi mereka dari “orang pantai” menjadi “orang gunung”.

Kendala-kendala itu bukanlah dicari-cari sebagai alasan sebagian penduduk yang kurang setuju dengan program (relokasi) itu, tapi lebih didorong oleh keprihatinan akan masa depan mereka bersama keluarganya. Mereka sadar benar bahwa pembangunan diperlukan untuk kesejahteraan bersama, tapi tidak dengan memakan korban warga yang lain. Karena perpindahan atau relokasi tidak berarti hanya perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lainnya, tetapi menyangkut perolehan lapangan kerja atau perpindahan profesi, urusan sekolah anak-anak, interaksi sosial dengan lingkungan baru, dan sebagainya.

Maka dari itu mereka masih belum ikhlas betul berpindah dari “tanah airnya” itu ke lokasi yang baru. Profesi nelayan (mata pencaharian sebagian warga Tambaklorok) jelas berhubungan dengan lautan atau perairan, dan lautan itu dapat berupa waduk semisal Waduk Jatibarang. Maka, alangkah manisnya jika relokasi mereka dapat ditujukan ke sini, bukan ke lokasi lain yang menjauhkan mereka dari pakaryan (mata pencahariannya).

Lain daripada itu kita ingat bahwa Pemerintah Kota Semarang juga telah memulai memindahkan pusat perkotaan dari Simpang Lima ke pusat-pusat kota yang baru. Perpindahan (atau tepatnya: peralihan) itu dilakukan dengan jalan membangun daerah penyangga (hinterland) menjadi kawasan permukiman. Di Semarang Barat misalnya di daerah Ngaliyan, yaitu dengan mengubah hutan karet menjadi kawasan permukiman Bukit Semarang Baru (BSB). Di Semarang Timur dengan menyulap ujung Jalan Majapahit menjadi kawasan permukiman Plamongan Indah dan Plamongan Hijau. Kedua pusat hinterland ini dilengkapi pula dengan fasilitas jalan berupa bundaran serupa Lapangan Pancasila di Simpang Lima. Apakah program pengalihan pusat kota ini sudah berhasil, pembaca dapat menilainya sendiri.