Oleh: Djawahir Muhammad

PADA pertengahan bulan ini, Pemerintah Kota Semarang melalui Ketua Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) menginformasikan pembangunan tiga buah objek pembangunan dalam wilayah kota yang saling mendukung. Objek-objek itu adalah pengerukan sungai Banjir Kanal Timur, pembangunan wilayah pesisir /kampung Tambaklorok dan relokasi warga kampung nelayan itu ke lokasi yang lain.

Dikatakan saling mendukung karena ketiga objek tadi memiliki keterkaitan dan daya dukung: lumpur yang dikeruk dari sungai Banjir Kanal Timur dapat untuk mengurug lahan (tanah/wilayah pantai) di Tambaklorok , tanah yang diurug di kampung Tambaklorok itu dapat memperluas wilayah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, dan warga kampung (Tambaklorok) yang direlokasi (ke tempat lain) dapat meningkat kesejahteraannya.

Proyek pembangunan infrastruktur di atas sungguh ideal jika semua unsur berjalan sesuai aturan. Namun sebagian masyarakat menilai meskipun proyek itu secara teoretis memang bagus, akan tetapi secara praktis mereka menyangsikan keberhasilannya. Mengapa? Karena proyek itu ditengarai akan menemui banyak kendala. Kendala itu antara lain: pertama, sedimentasi sungai Banjir Kanal Timur yang semakin bertambah luas setiap tahun dan mereka mempertanyakan keajekan programnya (sustainable programme, program berkelanjutan).