ATRAKTIF : Para siswa ABK dari SLB di Kendal mengikuti lomba O2SN dan FLS2N yang digelar di Limbangan, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ATRAKTIF : Para siswa ABK dari SLB di Kendal mengikuti lomba O2SN dan FLS2N yang digelar di Limbangan, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Puluhan siswa sekolah luar biasa (SLB) unjuk kreativitas dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) dan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Lomba tingkat Kendal ini cukup unik, karena peserta seluruhnya adalah anak berkebutuhan khusus (ABK) atau kaum difabel.

Sedikitnya ada 56 ABK, perwakilan dari lima SLB di Kendal. Beberapa cabang yang dilombakan adalah lari 100 meter, baca puisi, menggambar dan mewarnai gambar, menyanyi membaca Quran dan sebagainya.

Lomba memang umum seperti lomba pada umumnya, tapi pesertanya yang beda. Panitia dan guru pendamping harus repot mengatur peserta lomba. Pasalnya para siswa kerap seenaknya, tidak mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh juri.

Seperti lomba lari 100 meter. Beberapa siswa keluar dari jalur yang sudah ditentukan, sehingga para guru pendamping harus mengejar muridnya dan mengarahkannya pada jalur yang benar. Alhasil aksi kejar-kejaran tersebut mengundang tawa para penonton maupun orang tua siswa.

Meski ada yang konyol, tapi tak sedikit siswa yang unjuk kebolehan seperti anak normal. Sebagaimana Slamet Teguh Sudiro yang tuna grahita dan Ira Rahmawati yang tunanetra sejak lahir. Keduanya tampil memukau saat menyanyi. Kedua siswa asal SLB ABC Swadaya Kaliwungu itu ternyata memiliki suara emas yang membuat para juri dan penonton terhipnotis.

Slamet mengaku untuk lomba menyanyi dirinya tidak melakukan persiapan. “Hanya spontan langsung menyanyi saja, karena memang saya hobi menyanyi,” katanya, kemarin.

Kepala SLB ABC Swadaya Widiyati Nani mengaku bahwa rata-rata siswa peserta lomba tanpa persiapan. Lantaran tidak ada guru yang mengajar seni maupun olahraga. “Yang ada hanya guru kelas. Jadi para siswa ini menyanyi sesuai kesenangan mereka, untuk guru vokal memang tidak ada,” tandasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kendal, Muryono mengatakan bahwa lomba tersebut digelar untuk membangun kepercayaan diri siswa dan orang tua siswa. Sebab selama ini banyak orang tua yang minder karena status anaknya yang ABK. ”Kami ingin memotivasi siswa ABK, bahwa mereka bisa seperti orang normal. Tapi memang cara mengajarkannya yang berbeda, karena mereka adalah anak-anak berkebutuhan khusus. Tapi mereka harus diperhatikan agar memiliki masa depan yang sama seperti orang normal,” tandasnya.

Ia mencontohkan pengusaha miliuner Handry Santiago yang sejak kecil cacat dan hanya bisa duduk di kursi roda. Karena semangat tinggi dan dukungan dari orang-orang di sekitar ia mampu bekerja seperti orang normal. Bahkan kini ia menjadi pemimpin di 18 perusahaan besar.

Ketua Panitia Lomba, O2SN dan FLS2N mengatakan jika para siswa yang menang nantinya akan diikutsertakan dalam lomba tingkat Jateng yang akan digelar April mendatang. “Jika menang, akan dilombakan di tingkat nasional,” paparnya. (bud/ida)