DIPERIKSA : Muhamad Iskandar Zabidin saat diperiksa Kasie Intelijen Kejari Kajen, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIPERIKSA : Muhamad Iskandar Zabidin saat diperiksa Kasie Intelijen Kejari Kajen, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIPERIKSA : Muhamad Iskandar Zabidin saat diperiksa Kasie Intelijen Kejari Kajen, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIPERIKSA : Muhamad Iskandar Zabidin saat diperiksa Kasie Intelijen Kejari Kajen, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Salah seorang warga memenuhi panggilan pemeriksaan dugaan penyimpangan bantuan sosial (bansos) tahun 2014, di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kajen Pekalongan, Jumat (26/02) kemarin. Meski orang tersebut tidak sesuai dengan nama pada surat panggilan Kejari. Akibatnya Kasi Intelejen Kejari Kajen, Selamet Hariyadi, marah besar karena merasa lembaganya dipermainkan
Adalah Muhamad Iskandar Zabidin, 25, warga Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, datang ke kantor Kejari untuk menjalani pemeriksaan atas dugaan penyimpangan bantuan sosial milik oknum anggota DPRD Kabupaten Pekalongan 2009-2014. Sedangkan di dalam undangan pemanggilan tertulis jelas nama Mahmudin, warga Desa Simbangkulon, bukan Muhamad Iskandar Zabidin yang datang memenuhi panggilan tersebut. Zabidin pun merasa kebingungan ketika ditanya kedatangannya ke Kejari.

Zabidin mengaku bahwa dirinya disuruh datang ke Kantor Kejari oleh tetangganya yang mantan anggota dewan, untuk memenuhi panggilan Kejari atas nama Mahmudin. Dirinya diberi upah sebesar Rp 100 ribu.