DIKEBUT : Pengerjaan ruas tol Bawen – Salatiga terus dikebut guna mencapai target selesai menjelang Lebaran tahun ini. Namun dari pengamatan di lapangan, target tersebut kemungkinan sulit tercapai. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKEBUT : Pengerjaan ruas tol Bawen – Salatiga terus dikebut guna mencapai target selesai menjelang Lebaran tahun ini. Namun dari pengamatan di lapangan, target tersebut kemungkinan sulit tercapai. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKEBUT : Pengerjaan ruas tol Bawen – Salatiga terus dikebut guna mencapai target selesai menjelang Lebaran tahun ini. Namun dari pengamatan di lapangan, target tersebut kemungkinan sulit tercapai. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKEBUT : Pengerjaan ruas tol Bawen – Salatiga terus dikebut guna mencapai target selesai menjelang Lebaran tahun ini. Namun dari pengamatan di lapangan, target tersebut kemungkinan sulit tercapai. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Percepatan pembangunan proyek jalan tol Trans Jawa masih menuai kendala pembebasan lahan. Di Desa Delik, Kecamatan Tuntang, warga masih menyita lahan fasilitas umum (fasum) dan minta ganti rugi.

Menanggapi hal itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Panowo menjelaskan, lahan fasum tidak mungkin dibayar karena itu bukan tanah milik warga. Permintaan itu tidak akan digubris karena justru melanggar hukum. Kalau kompensasi konstruksi fisiknya, kata gubernur, masih bisa diklaimkan. Pemerintah sendiri sudah deal memberi ganti rugi sebesar Rp 220 juta untuk mengganti jalan desa dan pemindahan tiang listrik.

”Pembebasan fasum ini cukup alot. Sudah memakan waktu enam bulan. Jika ini tidak segera diselesaikan, tidak akan selesai-selesai. Maka kami buatkan tim-tim kecil untuk menyelesaikan ruas yang belum tuntas,” ucap Ganjar.