Sugiman berharap proses ganti untung nantinya sesuai dengan keadaan masyarakat yang ada. Jika memang harus pindah, ia minta tidak mengacu pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang jumlahnya sangat murah sekali. ”Dari empat rumah, hanya dihargai Rp 30 juta. Padahal untuk bangun saat ini Rp 1 miliar saja tidak cukup,” akunya.

Menanggapi permintaan warga, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan bahwa reaktivasi jalur kereta Stasiun Tawang ke Pelabuhan Tanjung Emas ini merupakan program nasional yang harus didukung warga. Kendati demikian, ia akan memastikan bahwa proyek tersebut tidak akan menyengsarakan warga yang akan terkena proyek. ”Saya minta warga untuk tidak resah dengan rencana tersebut, karena proses ini masih butuh waktu yang dikomunikasikan dengan warga,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil rapat dengan PT KAI, Hendi –sapaan akrabnya— membenarkan bahwa yang bersangkutan menginginkan melakukan pembuatan rel baru sebagai jalan pintas (shortcut). Hal itu dengan pertimbangan untuk efisensi nilai konstruksi dan menyingkat perjalanan dari jalur awal sepanjang 2,9 km menjadi hanya 400 meter. Akibatnya, sebagian pembangunan akan melewati permukiman warga.

”Yang jelas, kami minta konsepnya bukan penggusuran akan tetapi ganti untung. Yang sudah memiliki sertifikat harus diganti sesuai peraturan yang ada. Sementara yang belum (punya sertifikat) juga harus diganti bangunannya,” katanya seraya mengaku masih menunggu tim appraisal dari pemerintah pusat. (fai/aro/ce1)