KRAPYAK – Gugatan praperadilan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) melawan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang akhirnya digelar perdana di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (24/2) kemarin. Yakni, terkait lambatnya pelimpahan berkas perkara dengan tersangka Dyah Ayu Kusumaningrum (DAK) selaku mantan personal banker pada Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Cabang Pandanaran atas kasus dugaan korupsi raibnya dana kas daerah (kasda) sebesar Rp 22,7 miliar milik Pemkot Semarang di BTPN sejak 2007-2014.

Arif Suhudi yang mewakili MAKI, menyebutkan ada 14 fakta hukum yang dijadikan dasar permohonannya sebagai pihak ketiga yang berkepentingan. Di antaranya adalah berdasarkan barang bukti yang berhasil disita oleh Penyidik Polrestabes Semarang dan didukung keterangan 12 orang saksi serta keterangan tersangka.

Melihat hal tersebut, lanjut Arif, penyidik telah bekerja keras dan secara objektif menyidik perkara tersebut untuk tersangka DAK yang mana unsur-unsur tindak pidananya telah terpenuhi. ”Selanjutnya penyidik melimpahkan berkas perkara kepada Kepala Kejari Kota Semarang atas nama DAK untuk diteliti. Selain itu, pada Desember 2015, berkas perkara tersebut telah dilakukan pelimpahan dari Polerstabes Semarang kepada termohon (Kejari Semarang, Red),” kata Arif di hadapan hakim tunggal, Puji Widodo SH MH.

Namun setelah pihak termohon (Kejari Semarang, Red) menerima berkas perkara tersebut, lanjut Arif, tindakan termohon tampak bermaksud membuat kabur dengan target supaya berkas perkara atas nama Dyah Ayu Kusumaningrum terulur-ulur agar tidak sampai ke persidangan. ”Hal tersebut sangat bertentangan dengan pasal 25 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 yang mengamanatkan termohon harus mengutamakan penyelesaian perkara tindak pidana korupsi daripada lainnya,” sebutnya.

Arif juga menilai, bukan hanya itu Kejari Semarang juga telah melakukan tindakan dengan sengaja mencegah atau menggagalkan penyidikan tindak pidana korupsi seperti Pasal 21 UU RI Nomor 31 Tahun 1999. Menurutnya pada sisi lainnya dalam perkara yang sama dengan tersangka Suhantoro telah disidangkan di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang (sudah berkekuatan hukum tetap, Red). ”Dalam persidangan tersebut kesaksian Suhantoro mengakui telah menerima sejumlah uang dari BTPN dan uang tersebut telah dibagi-bagikan ke berbagai pihak,” ungkapnya.

Dalam permohonan subsider, Arif meminta hakim untuk memerintahkan Kejari Kota Semarang menyatakan berkas perkara dengan tersangka Dyah Ayu Kusumaningrum dalam dugaan kasus tindak pidana korupsi dan perbankan telah lengkap.