BERPRODUKSI: Proses pembuatan plastik di CV Sinar Joyo Boyo (Plane D), di Demesan, Girirejo, Tempuran, Kabupaten Magelang, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
BERPRODUKSI: Proses pembuatan plastik di CV Sinar Joyo Boyo (Plane D), di Demesan, Girirejo, Tempuran, Kabupaten Magelang, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
BERPRODUKSI: Proses pembuatan plastik di CV Sinar Joyo Boyo (Plane D), di Demesan, Girirejo, Tempuran, Kabupaten Magelang, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
BERPRODUKSI: Proses pembuatan plastik di CV Sinar Joyo Boyo (Plane D), di Demesan, Girirejo, Tempuran, Kabupaten Magelang, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

SEMENTARA itu, perusahaan plastik dari Magelang, tidak merasa terancam oleh kebijakan Menteri Lingkungan Hidup, terkait plastik berbayar. Malah, mendorong perusahaan menciptakan produk ramah lingkungan.

“Justru kami terimakasih dengan kebijakan itu, karena bisa mengembangkan ke produk lain. Kami buat plastik yang akhir recycle-nya bisa jadi kompos,” kata Chief Executive Officer (CEO) Sinar Joyoboyo Plastik, Hengky Sidharta, kemarin.

Ia makin mengembangkan produk plastic Idola+ yang diklaim bisa terurai 24-36 bulan. Bahannya, dari HDPE plus bahan lain menggunakan teknologi Kanada. Saat ini, yang sudah menggunakan produk itu, adalah toko modern. Menjadi targetnya, kantong plastik itu bisa menyuplai pasar tradisional.

“Tapi, kita terkendala soal harga. Karena selisih harga dengan plastik konvensional sekitar 30 persen,” klaimnya.