KURANG SOSIALISASI: Pengunjung pusat perbelanjaan menenteng kantong plastik berisi barang belanjaan beberapa waktu lalu. Upaya mengurangi sampah plastik dengan penerapan tarif dirasa kurang efektif. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
KURANG SOSIALISASI: Pengunjung pusat perbelanjaan menenteng kantong plastik berisi barang belanjaan beberapa waktu lalu. Upaya mengurangi sampah plastik dengan penerapan tarif dirasa kurang efektif. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
KURANG SOSIALISASI: Pengunjung pusat perbelanjaan menenteng kantong plastik berisi barang belanjaan beberapa waktu lalu. Upaya mengurangi sampah plastik dengan penerapan tarif dirasa kurang efektif. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
KURANG SOSIALISASI: Pengunjung pusat perbelanjaan menenteng kantong plastik berisi barang belanjaan beberapa waktu lalu. Upaya mengurangi sampah plastik dengan penerapan tarif dirasa kurang efektif. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Upaya mengurangi sampah dari plastik dengan memberi tarif sebesar Rp 200 per kantong plastik di swalayan dan minimarket dirasa kurang efektif. Sebab, nilai itu tidak akan menjadi ’beban’ bagi konsumen.

”Kalau hanya Rp 200 itu kan tidak terasa. Pembeli lebih memilih bayar Rp 200 daripada harus repot-repot membawa keranjang sendiri. Coba kalau Rp 2 ribu,” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jawa Tengah, Agus Sriyanto, kemarin.

Meski begitu, dia membayangkan jika pasar-pasar modern menyediakan keranjang hasil kerajinan UMKM. Selain upaya mengurangi limbah dari kantong plastik, cara ini juga bisa membantu memasarkan produk UMKM.

Arif menjelaskan, program ini baru berlaku di swalayan dan minimarket saja. Pasar tradisional, toko, atau warung tidak perlu menerapkannya. ”Ini masih sebatas uji coba. Ke depan, pasti akan mengarah ke sana,” tegasnya.