KELOLA : Petugas TPSA Banyuurip dan para pemulung sedang beraktivitas mengelola sampah. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
KELOLA : Petugas TPSA Banyuurip dan para pemulung sedang beraktivitas mengelola sampah. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
KELOLA : Petugas TPSA Banyuurip dan para pemulung sedang beraktivitas mengelola sampah. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
KELOLA : Petugas TPSA Banyuurip dan para pemulung sedang beraktivitas mengelola sampah. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG–Kritik pedas Wali Kota Sigit Widyonindito terkait menggunungnya sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Banyuurip, Kabupaten Magelang, menjadi perhatian serius dinas terkait. Yakni, Dinas Kebersihan Pertamanan dan Tata Kota (DKPTK) Magelang.

Wali Kota Sigit menilai, pengelolaan sampah di TPSA tidak maksimal. Tampak di salah satu zona sel aktif seluas 0,936 hektare, sampah menumpuk setinggi kurang lebih 8 meter. Padahal, idealnya 2-3 meter. Aroma dari gunungan sampah itu sangat menyengat. Menyebar hingga radius 1 kilometer. Kondisi ini diperparah musim hujan.

Pengelola TPSA Banyuurip sebenarnya sudah menerapkan sistem lahan urug terkendali atau control landfill. Nyatanya, belum menyelesaikan masalah. “Yang jelas, baru diupayakan secara teknis,” kata Kepala DKPTK Magelang, Arif Barata Sakti, kemarin.