Warga Minta Keringanan Cicilan Sewa

Tunggakan Sewa Lahan PT KAI

436
MEMBERATKAN: Warga RW 1 Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen sedang bermediasi dengan PT KAI dari Daops IV Semarang di Stasiun Brumbung, kemarin. (Wahib pribadi/radar kedu)
MEMBERATKAN: Warga RW 1 Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen sedang bermediasi dengan PT KAI dari Daops IV Semarang di Stasiun Brumbung, kemarin. (Wahib pribadi/radar kedu)
MEMBERATKAN: Warga RW 1 Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen sedang bermediasi dengan PT KAI dari Daops IV Semarang di Stasiun Brumbung, kemarin. (Wahib pribadi/radar kedu)
MEMBERATKAN: Warga RW 1 Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen sedang bermediasi dengan PT KAI dari Daops IV Semarang di Stasiun Brumbung, kemarin. (Wahib pribadi/radar kedu)

DEMAK-Warga Desa Kembangarum, Kecamatan Mranggen yang menempati hak guna lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di sekitar Stasiun Brumbung dan Pasar Ganefo, Mranggen meminta keringanan dan kelonggaran untuk mencicil biaya sewa lahan yang belum terbayar. Sebab, akumulasi pembayaran sewa lahan yang ditempati untuk rumah hunian tersebut terhitung sejak 2009 hingga 2016 ini. Artinya, mereka harus melunasi uang sewa ke PT KAI selama 8 tahun terakhir.

Hal ini mengemuka dalam mediasi antara warga dengan pihak petugas PT KAI Daop 4 Semarang yang berlangsung di kantor Stasiun Brumbung, kemarin. Ketua RT 2 RW 1, Desa Kembangarum, Bambang Wijatmoko mengungkapkan, warga minta kelonggaran waktu untuk berpikir dan rembukan bersama terkait penawaran harga sewa yang diajukan PT KAI.

“Jangan sampai sewa itu memberatkan warga,” katanya.

Bambang menuturkan, PT KAI mengajukan penawaran harga sewa lahan untuk hunian warga sebesar Rp 5 ribu permeter persegi setahun. Besaran nilai sewa itu dihitung akumulatif sejak 2009 sampai 2015. Sedangkan, untuk nilai sewa pada 2016 ini PT KAI mematok sebesar Rp 7.500 permeter persegi.