DIBRANDING CIMORY : Salah satu produk UMKM Kabupaten Semarang yang dijual di Cimory, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIBRANDING CIMORY : Salah satu produk UMKM Kabupaten Semarang yang dijual di Cimory, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIBRANDING CIMORY : Salah satu produk UMKM Kabupaten Semarang yang dijual di Cimory, kemarin. (EKO WAHYU  BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIBRANDING CIMORY : Salah satu produk UMKM Kabupaten Semarang yang dijual di Cimory, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kabupaten Semarang mengeluhkan soal minimnya peran pemerintah dalam memberikan terobosan untuk mendongkrak produk-produk lokal mereka. Disisi lain, produk-produk luar daerah kini malah membanjiri Kabupaten Semarang.

Salah satu Pelaku UMKM asal Banyubiru Kabupaten Semarang, Kristi mengatakan bahwa selama ini lokasi pemasaran produk UMKM sangat minim. Tragisnya, beberapa UMKM Corner yang ada di Kabupaten Semarang seakan mati suri. “Selama ini kami merasa kesulitan memasarkan produk keluar daerah. Makanya, tidak banyak produk lokal yang bisa terjual keluar daerah,” kata Kristi, Senin (22/2) kemarin.

Akibatnya tidak banyak UMKM lokal yang berkembang. Sebaliknya, produk-produk luar justru membanjiri Kabupaten Semarang. “Seperti halnya Cimory. Di Cimory produk UMKM kita hanya 10 persen yang diakomodasi,” katanya.

Selain minimnya persentase, katanya, di Cimory lebih dipenuhi produk-produk luar Kabupaten Semarang. Ditambah lagi saat ini sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). “Sehingga produk-produk lokal kalah saing,” katanya.