MUDAH DAN PRAKTIS: Banyak pedagang pasar tradisional terjerat utang bank titil. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MUDAH DAN PRAKTIS: Banyak pedagang pasar tradisional terjerat utang bank titil. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MUDAH DAN PRAKTIS: Banyak pedagang pasar tradisional terjerat utang bank titil. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MUDAH DAN PRAKTIS: Banyak pedagang pasar tradisional terjerat utang bank titil. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KEBERADAAN bank titil punya dua muka yang berbeda. Di satu sisi, mereka sangat membantu nasabah, karena kemudahan pinjaman tanpa agunan. Tapi di sisi lain, bunga yang dipatok tergolong tinggi. Jadi, sudah jadi hal umum jika nasabah bank titil kerap merasa tercekik saat membayar angsuran.

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) Prof Purbayu Budi Santosa menuturkan, bank-bank formal harus bisa mencontoh konsep bank titil mengenai kemudahan dalam mengajukan pinjaman. Apalagi untuk menggerakkan ekonomi rakyat di tengah kondisi seperti sekarang, pengusaha kecil seperti pedagang pasar, harus mendapat perhatian ekstra.

”Yang ditiru soal kemudahannya. Bukan tingginya bunga kredit. Bank titil itu sangat mudah mencairkan dana meski tanpa agunan. Mereka juga jemput bola,” tuturnya ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Menurutnya, bank formal kurang berani seperti bank titil mengenai kepercayaan kepada nasabah. Karena itu, pemerintah perlu campur tangan, terutama Dinas Pasar atau kepala pasar tradisional. Seperti yang terjadi di Banjarnegara, kata Purbayu, ada bank swasta yang justru mau jemput bola. Mengantarkan uang kredit kepada nasabah di pasar-pasar.