“Saya mengawali karier dari sales. Dulu terinspirasi dari teman main waktu kuliah,” kata Herman Didik Saputra saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di ruang kerjanya di Jalan Brigjen Sudiarto No 127, Gayamsari, Semarang, belum lama ini.

Dia mengakui mengenal dunia marketing ketika dulu kuliah di Perbanas Jakarta. Herman yang penasaran terus mengamati aktivitas teman mainnya itu secara seksama. Sesekali mencari tahu dengan berbincang soal aktivitas tersebut. “Saya tertarik, dia kuliah bisa sambil bekerja sebagai marketing. Wah, kuliah sambil bekerja dan dapat uang kayaknya enak tuh,” ujar ayah kandung Bruce Georgewise itu.

Akhirnya ia diperkenalkan dengan dunia sales marketing. Herman mengaku semakin tertarik karena ilmu sales marketing ternyata penuh dengan tantangan. “Melalui dunia marketing, saya mulai mengenal beraneka ragam karakter orang, saya jadi banyak belajar. Justru itu menjadi sebuah motivasi,” ungkapnya.

Menurutnya, ilmu sales marketing lebih sulit ketimbang ilmu teknik. Sebab, marketing berkaitan dengan komunikasi sosial masyarakat di lapangan. Sudah tentu bakal bertemu dengan customer yang memiliki karakter berbeda-beda. “Kadang bisa saja bertemu dengan orang yang bijaksana, kadang juga bertemu dengan orang individual,” terang anak ke tiga dari empat bersaudara ini.

Berbeda hal lanjutnya, dengan ilmu teknik komputer yang berkaitan dengan ilmu teknik yang memiliki perangkat dan sistem jelas. “Tapi kalau ilmu marketing berkaitan dengan ilmu komunikasi sosial di masyarakat dengan masing-masing permasalahan berbeda-beda,” katanya.

Oleh karena itu, berkaitan marketing dibutuhkan kecerdasan dalam mengambil suatu tindakan dan keputusan yang dianggap tepat. Maka seorang sales marketing harus mengetahui etika dan cara bertemu customer.

“Melalui marketing, saya semakin sering bertemu banyak orang sehingga memiliki banyak teman, banyak kenalan dan menambah persaudaraan. Dari situlah marketing berperan,” kata pria yang pernah mendapat penghargaan Juara 1 Branch Manager (BM) Terbaik saat menjabat BM Indomobil Nissan di Malang ini. (amu/ric)