SOSIALISASI : Dyah Irma Permana Sari SH MHum (tengah) saat Sosialisasi Upaya Pencegahan Tindak Kekerasan Terhadap Anak Tahun 2016. (Jpnn)
SOSIALISASI : Dyah Irma Permana Sari SH MHum (tengah) saat Sosialisasi Upaya Pencegahan Tindak Kekerasan Terhadap Anak Tahun 2016. (Jpnn)
SOSIALISASI : Dyah Irma Permana Sari SH MHum (tengah) saat Sosialisasi Upaya Pencegahan Tindak Kekerasan Terhadap Anak Tahun 2016. (Jpnn)
SOSIALISASI : Dyah Irma Permana Sari SH MHum (tengah) saat Sosialisasi Upaya Pencegahan Tindak Kekerasan Terhadap Anak Tahun 2016. (Jpnn)

TEGAL – Saat ini tindak kekerasan yang dilakukan oknum guru terhadap siswa masih saja terjadi. Hal itu menjadi pertanyaan salah satu siswa saat Sosialisasi Upaya Pencegahan Tindak Kekerasan Terhadap Anak Tahun 2016 di SMP Negeri 13 Kota Tegal, Kamis (18/2) siang.

Menurut Dosen Fakultas Hukum Universitas Pacasakti (UPS) sekaligus Advokat, Dyah Irma Permana Sari SH MHum, seorang guru tidak mungkin memarahi atau memukul muridnya kalau memang tidak melakukan kesalahan. “Bisa jadi karena siswanya nakal atau tidak mengerjakan tugas,” terangnya.

Namun apa pun bentuknya, pemukulan merupakan salah satu tindak kekerasan yang masuk ke dalam ranah hukum pidana. “Tergantung ringan atau berat,” ujarnya. Namun jika memang terjadi perselisihan antara guru dan murid, sebaiknya diselesaikan melalui musyawarah atau mediasi. “Supaya mendapatkan jalan keluar yang terbaik,” tegasnya.

Tindak kekerasan dapat memberi dampak negatif pada anak. Antara lain anak menjadi agresif dan mudah frustasi. Mereka juga bisa menjadi sulit menjalin relasi dengan individu lain. Kemudian timbul rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri.

Sementara Psikolog Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kardinah, Andriyanti S Psi mengungkapkan, jika anak mengalami tindak kekerasan maka harus berani melapor, minimal kepada orang tua. Hal ini dilakukan supaya pelaku tidak melakukan tindakan serupa terhadap yang bersangkutan dan orang di sekitarnya. (dya/jpnn/ric)