Jalur bagi Tunanetra Masih Menyulitkan

691
PENGENALAN: Para siswa SLB-A Negeri Semarang saat menyeberang di zebra cross Simpang Lima, Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENGENALAN: Para siswa SLB-A Negeri Semarang saat menyeberang di zebra cross Simpang Lima, Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENGENALAN: Para siswa SLB-A Negeri Semarang saat menyeberang di zebra cross Simpang Lima, Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENGENALAN: Para siswa SLB-A Negeri Semarang saat menyeberang di zebra cross Simpang Lima, Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SIMPANG LIMA – Belasan siswa sekolah luar biasa (SLB) Negeri Semarang menjajal jalur khusus tunanetra yang ada di trotoar Lapangan Simpang Lima Semarang, Kamis (18/2) siang kemarin. Siswa berkebutuhan khusus ini diajarkan untuk berorientasi pada jalur khusus yang sudah ada dengan berjalan satu per satu.

Pembimbing tunanetra SLB-A Negeri Semarang, Pramono, mengatakan, jika banyak siswa belum bisa merasakan jalur tunanetra yang ada di trotoar. Padahal dengan adanya jalur tersebut, diharapkan siswa tunanetra ini bisa mandiri berjalan sendiri. ”Masih belum bisa dirasakan, apalagi latihan ini baru sekali dan harus dilakukan secara rutin,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pramono yang juga mempunyai keterbatasan pengelihatan ini menjelaskan, jika jalur khusus tunanetra yang dibangun oleh pemerintah dirasa masih sangat kurang dan malah menyulitkan. Pasalnya, jalur tersebut sangat berdekatan dengan pot-pot bunga dan kursi taman. ”Belum memadai dan kurang nyaman, banyak pot dan kursi di dekat lintasan. Selain itu juga ada besi portal yang sangat menyulitkan bagi tunanetra untuk berjalan,” ujarnya.

Selain di trotoar, banyak fasilitas publik yang ada belum mendukung. Ia mencontohkan fasiltas bagi penyandang tunanetra di dalam mal, bus, dan jembatan penyeberangan juga belum disediakan. ”Fasilitas bagi kami sangat minim, tidak semua fasilitas umum ramah buat tunanetra,” keluhnya.

Selain belajar orientasi mobilitas di perlintasan khusus tuna netra, mereka juga dilatih untuk menyeberang jalan raya lewat zebra cross. Ia meminta agar pemerintah bisa memperbaiki fasilitas yang dianggap kurang nyaman, dan melengkapi fasiltas umum lainnya dengan fasilitas bagi orang berkebutuhan khusus. ”Saya berharap agar pemerintah juga memikirkan nasib kami dengan membangun fasilitas yang lebih nyaman,” pintanya. (den/aro/ce1)