DUGAAN KORUPSI: Petani buta huruf, Sakimin didampingi kuasa hukumnya Nugroho Budiantoro usai divonis di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DUGAAN KORUPSI: Petani buta huruf, Sakimin didampingi kuasa hukumnya Nugroho Budiantoro usai divonis di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DUGAAN KORUPSI: Petani buta huruf, Sakimin didampingi kuasa hukumnya Nugroho Budiantoro usai divonis di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DUGAAN KORUPSI: Petani buta huruf, Sakimin didampingi kuasa hukumnya Nugroho Budiantoro usai divonis di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MANYARAN – Seorang petani buta huruf, Sakimin, divonis 4 tahun penjara atas kasus korupsi penyelewengan dana Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Desa Teguhan, Kabupaten Grobogan pada 2014. Kasus tersebut juga menyeret adik dari Kepala Desa Teguhan, Andi Poedjo Soebroto.

Vonis tersebut cukup berat bila dibandingkan dengan pejabat yang terjerat kasus korupsi. Yang rata-rata hanya divonis ringan, bahkan bebas. Padahal merugikan keuangan negara hingga miliaran rupiah. Berbeda dengan Sakimin yang mendapat vonis berat, ironisnya kerugian tersebut hanya dinikmati Andi bukan petani Sukimin.

Oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang yang dipimpin Suprapti menjatuhkan vonis terhadap terdakwa Sakimin dengan pidana 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 42 bulan kurungan.