STOK MENCUKUPI: Bulog Divre Jateng siap menyalurkan raskin ke seluruh Jateng, namun menunggu konfirmasi terkait kesiapan daerah dalam mendistribusikan raskin tersebut kepada masyarakat yang berhak. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
STOK MENCUKUPI: Bulog Divre Jateng siap menyalurkan raskin ke seluruh Jateng, namun menunggu konfirmasi terkait kesiapan daerah dalam mendistribusikan raskin tersebut kepada masyarakat yang berhak. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN–Di beberapa pasar tradisonal Kecamatan Wiradesa, Siwalan dan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, harga beras IR 64 yang sebelum musim banjir masih bertahan dengan harga Rp 8.200 per kilogramnya, kini sudah 3 kali ganti harga. Bahkan, pada Senin (15/2) kemarin, harga beras IR 64 sudah tembus Rp 9.700 per kilogramnya. Demikian halnya dengan beras jenis C4 kualitas super, sudah dihargai Rp 11.500 ribu per kilogramnya, dari semula Rp 9.700 per kilogramnya.

Kemudian, harga beras C4 kualitas super di Pasar Wiradesa, semula Rp 8.200 untuk per kilogramnya, kini naik menjadi Rp 10.500, setelah tiga kali kenaikan. Naiknya harga beras tersebut, karena banyaknya permintaan dan minimnya pasokan dari pengepul serta adanya kenaikan biaya transportasi.

Khosiyah, 42, pedagang beras asal Desa Tanjungsari, Kecamatan Karanganyar, mengungkapkan bahwa naiknya harga beras saat ini, lebih disebabkan karena harga beras di pengepul sudah mengalami kenaikan terlebih dahulu. Alasannya biaya transportasi naik.

Menurutnya harga beras mulai naik sepekan terakhir, sejak jalan raya mulai rusak karena terjadinya banjir di beberapa tempat. Para sopir meminta tambahan biaya transportasi, karena BBM yang digunakan lebih banyak jika dibandingkan kondisi tidak banjir. Biaya transport dari para pengepul beras, dibebankan kepada pembeli dengan menaikan harga beras.

“Harga dari pasarnya saja sudah naik antara Rp 1000 hingga Rp 1500, dengan alasan transportnya juga ikut naik. Terpaksa saya juga ikut menaikkan harga beras,” ungkap Khosiyah.

Khosiyah juga mengatakan bahwa beberapa daerah pemasok beras dari Kabupaten Demak dan Kudus sering mengalami keterlambatan dalam pengiriman beras karena jalanan rusak. ”Pedagang beras dari Demak dan Kudus, untuk sebulan ini sering mengalami keterlambatan pengiriman hingga akhirnya mengurangi persediaan beras di pasar dan hargapun naik,” kata Khosiyah.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Konsumen, Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi dan UMKM, Kabupaten Pekalongan, Dewi Fabanyo, menegaskan bahwa naiknya harga beras lebih disebabkan dengan banyaknya permintaan, bukan karena adanya gagal panen di beberapa tempat.

”Saat ini kebutuhann beras sangat tinggi, karena kenaikan harga sudah terjadi pada tingkat pengepul dan pengecer. Namun demikian harga akan kembali normal, setelah panen raya dalam waktu dekat ini,” tegas Fabanyo. (thd/ida)