Mengenang Pasar Johar

443

Oleh: Djawahir Muhammad

SUNGGUH sayang, Pasar Johar yang terbakar pada 9 Mei 2015 lalu sampai kini belum ada tanda-tanda akan segera diperbaki. Pedagangnya yang ribuan jumlahnya memang sudah akan direlokasi ke sebelah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), tapi nilai fisiknya sebagai cagar budaya maupun nilai non fisiknya yang tidak teraba (intangible) sebagai pemangku warisan budaya Semarangan tidak bisa diselamatkan. Padahal di sanalah warisan budaya orang Semarang tersimpan. Ingin tahu? Baiklah, kalau sampeyan pengin tahu watak orang Semarang, kenanglah Pasar Johar karena selama sehari– semalam Pasar Johar sesungguhnya mempresentasikan tradisi wong Semarang yang cukup lengkap.

Selain memiliki sifat-sifat religiositas (keagamaan), entrepreneurship (wiraswasta), egalitarian (sama rata) dan equality (kesejajaran atau kesamaan), masyarakat Semarang memiliki nilai-nilai budaya lokalnya sebagai ”wong Jawa” maupun sebagai ”wong pesisir”.

Tapi terhadap dua varian budaya besar itu wong Semarang lebih dekat menjadi penganut tradisi budaya pesisir alias ”wong pasar” (istilah Darmanto Jatman), daripada menjadi ”priyayi” yang berkonotasi sebagai pangreh praja yang mapan hidupnya. Hal ini disebabkan karena secara historis Semarang memang pernah berada di bawah daulat Keraton Surakarta yang feodalististik, namun juga mayoritas menjadi pemeluk Islam yang egaliter, equal, dan menganjurkan pemeluk-pemeluknya hidup mandiri alias punya jiwa entrepeneurship alias pedagang.

Meskipun alasan yang paling masuk akal karena letak geografisnya yang lebih dekat ke wilayah pantai/pesisir, daripada lebih dekat ke wilayah pedalaman. Orang Semarang juga menjadi subjek dari budaya hybrid (campuran dengan budaya asing) dan budaya Indis (campuran dengan budaya Belanda), sebagaimana nasib orang Indonesia lainnya yang pernah dijajah Kolonialis Belanda.

Akan tetapi dari beragam bentuk budaya yang diserapnya, mayoritas orang Semarang adalah penganut tradisi atau budaya pesisiran, yakni interaksi budaya yang berlangsung antara orang Jawa (di wilayah pesisiran), melalui perpaduan perilaku individu dan sosial, perdagangan, diplomasi politik dan militer yang melahirkan watak kosmopolit atau berorientasi ke budaya kota (Simuh, 2002).