Dyah Puspitasari (DOKUMENTASI PRIBADI)
Dyah Puspitasari (DOKUMENTASI PRIBADI)
Dyah Puspitasari (DOKUMENTASI PRIBADI)
Dyah Puspitasari (DOKUMENTASI PRIBADI)

KARATE bukan sekadar untuk membela diri. Bagi Dyah Puspitasari, olahraga fighting ini juga bisa untuk mengejar prestasi. Kecintaannya pada karate telah diolah menjadi senjata utama demi menyabet aneka kompetisi bergengsi. ”Asal suka, apa pun konsekuensinya, pasti bisa dijalani untuk menggapai obsesi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Staf Bidang Kepemudaan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Jateng ini telah mengenyam ilmu olahraga bela diri ini sejak masih duduk di bangku kelas 4 SD. Waktu itu, Dyah sudah digembleng teknik karate oleh ayahnya yang juga pelatih karate. Perlahan tapi pasti, tubuh Dyah mulai terbiasa dengan latihan keras.

”Baru waktu kelas 6 SD mulai ikut klub karate Lemkari. Terus pindah ke Wadokai hingga 2005, dan pindah lagi ke BKC,” jelas wanita kelahiran Grobogan, 3 Juli 1983 ini.

Ada satu alasan mengapa Dyah ingin sekali mencari prestasi di bidang ini. Suatu mimpi yang benar-benar ingin dijadikan kenyataan. Waktu kecil, pemilik postur 159 cm/54 kg ini ingin bertanding di luar negeri, barang satu kali saja. Merasakan bertarung dengan atlet dari negara lain.