IKON KOTA LAMA: Gereja Blenduk merupakan salah satu bangunan yang masih terawat hingga kini, menjadi saksi sejarah yang mencitrakan pesona tempo dulu. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
IKON KOTA LAMA: Gereja Blenduk merupakan salah satu bangunan yang masih terawat hingga kini, menjadi saksi sejarah yang mencitrakan pesona tempo dulu. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pemkot Semarang mengklaim terus melakukan upaya untuk menjadikan Kawasan Kota Lama Semarang sebagai salah satu warisan dunia (world heritage). Saat ini, pemkot tengah merampungkan penyusuan dokumen dossier untuk diajukan ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco).

”Penyempurnaan dokumen dossier termasuk pembuatan film, dokumentasi, peta penyiapan bahan paparan kami targetkan selesai pada September mendatang,” ungkap Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Infrastruktur Bappeda Kota Semarang, M. Farchan kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Ia menjelaskan, warisan dunia adalah sebutan untuk tempat di bumi yang memiliki nilai universal yang luar biasa (outstanding universal value) untuk kemanusian. Nilai itu melampaui batas-batas nasional dan menjadi penting untuk generasi sekarang dan masa depan. ”Warisan dunia adalah milik semua bangsa di dunia sehingga perlindungan secara berkelanjutan merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat internasional secara keseluruhan,” katanya.

Jika sebuah negara memiliki situs yang tercantum dalam daftar warisan dunia, lanjut dia, maka status itu seringkali membantu meningkatkan kesadaran berbagai masyarakat untuk pelestarian situs warisan tersebut. Dengan meningkatnya kesadaran, maka secara umum tingkat perlindungan dan konservasi yang diberikan kepada situs tersebut juga meningkat. ”Negara juga dapat menerima bantuan keuangan dan saran ahli dari komite warisan dunia guna mendukung kegiatan untuk pelestariannya,” terangnya.

Atas hal tersebut, Farchan mengaku menargetkan mendapat pengakuan tersebut pada 2020 mendatang. Hal itu tidak lain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di kawasan Kota Lama Semarang sesuai dengan visi yang diangkat. ”Khusus penyusunan dokumen dossier kami anggarkan Rp 300 juta,” katanya seraya menambahkan Pemkot Semarang mendapat pendampingan dari Pemerintah Pusat melalui kegiatan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP).