“Sudah dua minggu terakhir ini, saya mengungsi ke rumah tetangga yang tidak kebanjiran. Saya butuh bantuan sembako dan pakaian, karena sudah tidak bisa bekerja sejak banjir,” kata buruh cuci baju ini, Jumat (12/2) kemarin.

Hal serupa disampaikan oleh Masduki, 34, warga Desa Jeruksari, yang sedang membendung air banjir. Dia telah berupaya meninggikan pintu rumahnya dengan tembok, agar air banjir dan rob tidak masuk ke dalam rumah. Namun ketinggian air banjir dan rob, setiap tahunnya terus meningkat. Tahun 2015 lalu, ketinggian banjir hanya 30 sentimeter, kini naik menjadi 50 sentimeter. “Ini sangat menganggu aktivitas usahanya, sebagai pengusaha konveksi jahitan berbahan busana muslim,” kata Masduki.

Sementara itu, Kepala Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Mubarok, menegaskan bahwa hingga kini belum ada bantuan terhadap korban banjir. Padahal warga korban banjir membutuhkan bantuan, khususnya sembako. “Selama banjir, mereka tidak bisa bekerja. Sehingga membutuhkan bantuan,” tuturnya.

Menurutnya banjir terparah justru terjadi di Desa Karangjompo, sebanyak 400-an rumah terendam setinggi 50 sentimeter, Mulyorejo ada 600 rumah yang terendam 40 sentimeter, Tegaldowo 200 rumah tergenang banjir. Sedangkan Desa Pecakaran, Wonokerto Tiur dan Api-Api ada 900-an rumah yang terendam banjir.

“Untuk bantuan sembako seperti beras, mi instan dan susu, sangat dibutuhkan. Namun untuk pengobatan, Puskesmas sudah mendatangi warga korban banjir,” tegas Mubarok. (thd/ida)