KASUS aborsi yang dilakukan santriwati berinisial NLM, 20, sungguh memprihatinkan. Apalagi aksi bejat itu dilakukan di lingkungan pondok pesantren yang seharusnya jauh dari perilaku pergaulan bebas, dan mendapatkan pendidikan agama yang kuat.

Psikolog Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Ahmad M Akung mengaku prihatin dengan kejadian tersebut. Ia tak menampik jika kasus aborsi belakangan kini cenderung mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan adanya perilaku seks bebas di kalangan remaja. ”Masih banyak kasus yang belum terungkap, trennya bahkan terus meningkat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakui, mudahnya mengakses situs porno menjadi salah satu faktor seks bebas kini dianggap lumrah. Apalagi di kalangan remaja punya rasa penasaran yang cukup tinggi dengan melihat film porno hingga mencoba dan akhirnya kebablasan.

”Pendidikan seks saat ini dianggap tabu, padahal sangat penting. Keluarga harus bisa menjadi benteng utama untuk mengetahui informasi yang didapat baik atau tidak oleh putra-putrinya,” ujarnya.

Terkait kasus aborsi yang terjadi di lingkungan pondok pesantren tersebut, menurut Ahmad, harus diteliti dari latar belakang pelaku, termasuk kebiasaan sebelum masuk ke pesantren. ”Pelaku adalah orang dewasa, jadi bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Pelaku dan pacarnya bisa dijerat hukum, karena tindakan yang dilakukan masuk dalam tindakan kriminal,” ungkapnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Psikolog Probowatie Tjondronegoro yang juga Humas RS St Elisabeth Semarang. Menurut dia, kasus tersebut tidak bisa dilihat dari status NLM sebagai seorang santriwati. Sebab, semua remaja kebanyakan pasti akan melakukan hal yang sama (aborsi) untuk menutupi rasa malu dan menjaga harga diri yang terancam. ”Harga diri yang jatuh bisa membuat orang jadi gelap mata, bahkan nilai-nilai agama pun dikesampingkan,” katanya.