KENDAL—Dinas Pertanian Kabupaten Kendal bersama dengan aparat TNI AD dan para petani di wilayah Desa Bulak Kecamatan Rowosari menggelar gerakan pembasmian hama tikus sawah di lahan seluas 6 hektar. Kegiatan tersebut bertujuan menekan kerugian para petani. Sebab selama ini banyak padi yang rusak dan habis dimakan tikus.

Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Pangan Dan Sarana Dan Prasarana pada Dinas Pertanian Kabupeten Kendal, Wildan Yonansyah, mengatakan kegiatan penggropyokan hama tikus dilakukan di lima desa di lima kecamatan. Yakni dengan melibatkan 25 personel TNI, 100 orang petani dan staf Dinas Pertanian sejumlah 15 orang termasuk UPTD serta para penyuluh pertanian.

Kegiatan pembasmian tikus dilakukan dengan menggunakan obat alpostran bantuan dari Kementrian Pertanian. “Obat disediakan secara gratis untuk para petani. Jadi kepada para petani yang menginginkan obat pembasmi tikus ini, bisa mengambil di UPTD Pertanian setempat dan kantor Dinas Pertanian,” terangnya.

Wildan menerangkan, cara penggunaan obat ini yakni pertama kali obat dimasukkan pada alpostran sebagai alat penopang. Setelah terpasang, obat yang terbuat dari bahan utama belerang itu kemudian disulut api dan dimasukkan ke lubang-lubang tikus yang nantinya akan mengeluarkan asap.“Tikus akan mati dengan sendirinya jika menghirup asap saat berada di dalam lubang. Jadi pengobatan ini sama persis dengan pengasapan. Memang lebih efektif karena hanya memerlukan tenaga tiga orang saja cukup,” jelas Wildan.

Sementara Kepala Desa Bulak Zaenal Alimin, menyebutkan, warganya menyambut gembira penyaluran obat anti hama tikus yang selanjutnya digunakan untuk melakukan pemberantasan. Warga berharap tanaman padi musim tanam kali ini bisa diselamatkan dan berhasil panen.“Sebab musim panen tahun lalu, petani banyak yang merugi lantaran hama tikus yang mengahabiskan sebagian padi yang semestinya siap panen. Sebab warga Bulak ini sebagian besar masyarakatnya berpendapatan dari hasil pertanian,” katanya.

Ia menambahkan, sebelum dilaksanakan pemberantasan massal, warga melakukan dengan cara manual. Yakni dengan cara memberburu binatang pengerat itu di lubang–lubang persembunyian seputar area pertanian.

Namun cara tersebut tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan alpostran yang berbentuk peluru tersebut, diharapkan hama tikus dapat dibasmi dengan maksimal. Dalam satu box terdapat 50 alpostran dan dua alat pemegang obat yang berbentuk corong. Penggunaan alat ini dengan cara diemposkan atau diasapi secara langsung ke dalam lubang tikus. (bud/zal)