Limbah Batubara Dibuang di JLS

388

SALATIGA–Tumpukan bahan semacam pasir berwarna hitam yang berada di tepi Jalan Lingkar Salatiga, tepatnya daerah bekas galian C, Argomulyo, diduga limbah batu bara yang berbahaya. Limbah batubara tersebut diduga sengaja dibuang di lokasi yang jauh dari keramaian orang.

Kasus ini pernah terjadi beberapa tahun lalu di JLS antara Pulutan dan Kecandran. Limbah yang dibungkus dalam puluhan karung yang berisi limbah batu bara dibuang begitu saja. Saat itu, kantor Lingkungan Hidup Kota Salatiga turun tangan dan menyingkirkannya.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup (LH), Prasetyo Ichtiarto menuturkan bahwa limbah batubara tersebut mengandung bahan berbahaya beracun (BBB) yang sesuai dengan aturan, pembuangannya harus pada tempat khusus dan harus dipendam. Jika tidak terpendam, sangat berbahaya. Dan jika limbah tersebut tidak segera disingkirkan, akan menjadi polusi udara.

Saat dicek, tumpukan seperti pasir berwarna hitam ini teronggok karena habis tersiram air hujan. Namun bau yang ditimbulkan cukup menyengat dan membuat mual. “Kami akan melakukan pengecekan lagi. Jangan sampai itu menjadi sumber polusi di masyarakat,” tandas Prasetyo, kemarin.

Disinggung mengenai alasan pembuangan di jalan, Prasetyo menduga faktor kemudahan yang menjadi alasan. Daripada harus melakukan pembuangan sesuai dengan aturan yang dibutuhkan biaya yang cukup mahal.

Kendati demikian, ia tidak bisa berspekulasi siapa yang membuang limbah berbahaya di tepi jalan tersebut. Mengingat JLS dilalui banyak kendaraan dari dalam dan luar Kota Salatiga. Meski di Kota Salatiga, ada tiga perusahaan yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.

Dalam kasus sebelumnya, aparat Polres Salatiga juga sempat turun tangan mengusut pembuangan limbah tersebut. Petugas melakukan penyelidikan di lokasi pembuangan itu. Polres Salatiga juga melakukan test laborat akan limbah tersebut. Pembuang limbah berbahaya sembarangan bisa dijerat dengan Pasal 43 ayat 1 UU Nomor 23 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup serta akan dikenai sanksi 6 tahun penjara. (sas/ida)