Tunjangan Perumahan Dewan, Dinilai Pemborosan

Rp 11 Juta Per Bulan

359

UNGARAN–Tunjangan perumahan pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Semarang mulai disorot. Sejumlah kalangan menilai anggaran sebesar Rp 10 juta per anggota DPRD setiap bulannya dinilai pemborosan atas keuangan negara.

Koordinator Gabungan Elemen Masyarakat Peduli Amanat Reformasi (Gempar) Jawa Tengah, Widjayanto membeber, ada alokasi anggaran tunjangan perumahan sekitar Rp10 juta per anggota DPRD setiap bulannya. Jika DPRD Kabupaten Semarang ada 50 orang, setiap bulan APBD menggelontorkan uang sebesar Rp 500 juta hanya untuk perumahan anggota dewan. Jika melihat SK Bupati Semarang Nomor 173.1/0562/2015, per 2016 ini tunjangan perumahan tiap anggota DPRD bisa tembus Rp 11 juta hingga Rp12 juta per bulan.

“Jika setiap bulannya sebesar itu, dalam setahun APBD harus mengucurkan dana Rp 6 miliar hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah para wakil rakyat yang kebanyakan sudah memiliki rumah,” kata Widjayanto, Selasa (9/2) kemarin.

Widjayanto menilai tunjangan perumahan anggota dewan terlalu besar. Apalagi sejumlah anggota dewan juga tidak menyewa rumah, tapi sudah menempati rumahnya sendiri. Widjayanto justru menyarankan agar anggaran tersebut dialokasikan untuk membangun rumah dinas DPRD, sehingga dapat menjadi aset daerah. Selain itu, setiap tahunnya APBD tidak terbebani biaya sewa rumah dewan.

“Kenapa tidak dibuatkan rumah dinas sekalian? Kalau setahun ada anggaran segede itu bisa untuk membuat rumah dinas, sehingga menjadi aset pemerintah daerah. Sebenarnya ada rumah dinas pimpinan DPRD di Perumda Gedanganak, kenapa tidak dimanfaatkan saja. Jika terus mengeluarkan anggaran sebesar itu, jelas pemborosan dan membebani APBD terus menerus,” tegasnya.

Widjayanto justru menilai, aturan tunjangan perumahan hanya akal-akalan untuk mencari tambahan pendapatan bagi anggota dewan, khususnya para pimpinan DPRD. Apalagi penetapan nilai Rp 11-12 juta per bulan untuk sewa rumah tidak ada dasarnya. “Ini terkesan hanya dijadikan sarana untuk menambah penghasilan,” kata dia.